Topeng (bag.7)

-Menemukan Kasih-



Dimas baru menyelesaikan pekerjaannya. Walau jam makan siang telah tiba, Ia enggan keluar dari ruang kerja. Selera makannya hilang sejak kekacauan itu menimpa perusahaan. Duduk dan berdiam diri lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu diluar ruangan.

Pintu kantornya diketuk, Dimas mempersilahkan masuk.

"Dimas..bagaimana kabarmu?" Sapa tamu itu akrab.

"Ooh..Anton, Silahkan duduk." Dimas menyambut tamu yang ternyata adalah teman baiknya, dengan wajah senang.

"Aku baik-baik saja, tapi seperti yang kau ketahui, perusahaan ini dilanda hal yang tidak menyenangkan."Sambungnya lagi.

"Turut prihatin atas musibah yang menimpa bawahanmu. Maaf aku  tidak ada disini untuk membantu saat itu." Anton bersimpati pada temannya.

Istirahat siang itu dihabiskan dengan pembicaraan seputar kasus pembunuhan yang menimpa karyawan perusahaan. Sebenarnya Dimas malas membahas hal itu lagi, tapi demi menghargai teman baiknya yang baru pulang dari luar kota, membuat Dimas harus betah berlama-lama membahas kembali kejadian itu.

"Wajahmu sudah seperti kakek-kakek saja Dimas."Anton menggoda temannya.

"Pulang dan istirahatlah!" Sambung Anton memberi saran.

"Justru itu membuatku mati tiba-tiba." Dimas membalas dengan candaan sekenanya.

Anton pamit meninggalkan Dimas yang tetap setia dalam ruang kerjanya, Ia tak berhasil mengajak temannya itu keluar untuk makan siang. Selera makannya benar-benar hilang. Saat keluar dari ruangan, Anton berpapasan dengan salah satu karyawan.

"Hera..!" Panggilnya yakin dengan nama karyawan itu setelah membaca tanda pengenal yang dikenakan. Kebetulan karyawan magang.

"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?" 

"Tolong kamu belikan makan siang untuk Pak Dimas, menunya sesuai selera kamu saja!" Perintahnya pada Hera sambil menyerahkan selembar uang dengan dua tokoh proklamator di salah satu sisinya.

"Baik pak." Hera menerima tugas dengan senang hati. Kemudian berbalik dan meninggalkan Anton yang masih menatapnya penuh arti.

Hera antusias memandang deretan menu yang terpajang di rumah makan, membayangkan jika dirinya adalah Pak Dimas..kira-kira apa yang akan dipilihnya. Mengingat kalimat atasan yang memintanya memilih makanan sesuai selera Hera sepertinya tidak mungkin, Pak Dimas pasti tidak suka dengan seleranya yang biasa-biasa saja. Bingung dengan apa yang akan dipilih, akhirnya Hera keluar dan berjalan menuju bangunan sederhana yang tak jauh dari rumah makan sebelumnya.

Terbayang kembali pada masa lima tahun yang lalu...

-Yang Terusir-

Hera tak tahu apa yang harus dilakukan, saat ini Ia hanya mengikuti kemana saja kakinya akan melangkah, yakin bahwa takdir akan membawanya kesuatu tempat yang lebih baik. Matahari sudah lama tumbang di sudut barat, meninggalkan warna gelap langit yang serupa dengan suasana hati Hera. Kebingungannya cukup membantu melupakan rasa lapar di perut. Sejak siang tadi Ia memang belum makan, lebih tepatnya tidak sempat karena panik mengobati luka Didi dan sibuk menerima hukuman dari orang tua angkatnya.

Kaki yang dipercayanya dapat menuntun arah tujuan ternyata berhenti didepan gerbang sekolah. Tanpa sadar airmata Hera mengembang, Ia tahu bahwa pendidikan itu penting, tapi dalam kondisi seperti ini dapatkah Ia menuntut ilmu? Hera duduk di kelas 2 SMA, setahun lagi waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya. Bimbang menyelinap masuk dalam hati, apa yang harus dipilih, lanjut atau berhenti?

"Kok jam segini masih sekolah nak..?" Tanya seorang bapak heran melihat Hera yang hampir setengah jam lamanya berdiri mematung di depan gerbang sekolah pada malam hari. Ini bukan jam sekolah pikirnya.

Hera hanya diam, pertayaan di otaknya belum bisa Ia jawab. Kaki, tangan dan tubuh kini semakin terasa sakit, lelah dan hampir tak lagi mampu berdiri. Pada titik terlemah, kesadaran meninggalkan tubuhnya.

"Hati-hati, apa kamu merasa baikan sekarang?" Bapak yang tadi menegur Hera karena masih berkeliaran disekitar sekolah ternyata menungguinya hingga sadar dari pingsan.

"Apa kamu sudah makan?" Tanyanya lagi.

Hera menggeleng lemah, melihat reaksinya bapak itu pergi menuju gerobak dagangan yang tak jauh dari tempat Hera duduk. Kemudian menyiapkan makanan dan minuman untuk gadis malang itu.

"Makanlah..!" Bapak itu mempersilahkan. Dengan lahap Hera menyantap makanan yang telah disajikan. Baginya ini makanan paling nikmat di dunia, disajikan oleh laki-laki tua berhati malaikat. Ia tak akan lupa dengan rasa yang kini melekat dilidah dan hatinya. Soto Ayam Pak Masdi, Begitulah nama yang tertera di Gerobak dagangnya.

------

Hera masuk kedalam bangunan sederhana itu, memesan soto ayam kesukaannya sejumlah dua porsi, satu untuk Pak Dimas dan satunya lagi untuk dimakan sendiri, kebetulan Ia juga belum makan siang ini.

Sesampainya di kantor, Hera segera mempersiapkan makanan yang dibelinya tadi, menata rapi mangkok, sendok, garpu dan gelas diatas nampan. Kemudian bergegas mengantarkan makanan itu ke ruangan Pak Dimas.

"Permisi Pak Dimas, ini makan siangnya." Hera meletakkan nampan berisi semangkuk soto ayam lengkap dengan bumbunya beserta minuman diatas meja Pak Dimas.

"Siapa yang memesan makanan?" Tanya Pak Dimas heran.

"Tadi Pak Anton yang meminta saya untuk membeli makan siang untuk bapak." Jawab Hera menjelaskan.

"Soto Ayam? Pak Anton memesan ini untuk saya?" Tanyanya lagi dengan heran. Bingung dengan pilihan temannya yang tak biasa.

Hera sudah menduga bahwa Pak Dimas tak akan senang dengan pilihannya. Tapi mau bagaimana lagi, menu itulah yang menjadi nomor satu dihati. Rasa tulusnya kasih sayang yang lahir dari kebaikan dapat Ia rasakan setiap kali memakan makanan itu. Setidaknya itu juga yang Hera harapkan jika atasannya ini bersedia memakan menu pilihannya. Soto Ayam itu enak lho pak, bisa menenangkan hati disaat pikiran sedang kalut. Bisik Hera dalam hati.


Bersambung..

Simak kisah-kisah sebelumnya di Topeng 1, 2, 3, 4, 5, 6 ...


Postingan populer dari blog ini

Mengenalmu dengan Baik

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

Dia Pernah Ada di Sini