Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2017

Mari Bicara Tentang Kematian

Di sisi jalan terhampar rumput liar, embun-embun satu dua terlihat masih setia bergelayut manja ditimpa sinar matahari. Tiga ekor burung gereja sedang bercanda. Terbang rendah, berputar dan sesekali menabrak temannya hingga bergulung-gulung di atas tanah. Sesaat kemudian kembali terbang sedikit lebih tinggi, masih dengan candaan yang mereka nikmati bersama.  Keceriaan mereka tampak renyah hingga sedetik kemudian berubah duka. Satu dari tiga ekor burung gereja yang menghindari patukan canda salah satu temannya tergilas motor yang melaju. Mati.  Duhai, bagaimanalah? Ini terlalu tiba-tiba, tanpa bisa diduga seperti apa akhirnya.  Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "hal yang paling misterius di dunia ini adalah kematian." Bicara tentang mati maka kita akan mempelajari sisi gelap, kenapa disebut gelap? Karena tidak ada yang pernah tahu kapan masa hidupnya habis dan kapan tepatnya kematian menjemput. Maka bicara tentang mati, yang dapat dilakukan adalah mempers

Perhatikan!

Perhatikan! Ada yang ingin aku sampaikan. Jangan sibuk sendiri! Karena rindu ini sudah menjadi pekerjaan paling sibuk. Datang tiba-tiba saat aku sedang menikmati Mentari yang merayap semakin tinggi. Menggangguku kala jari-jari asyik menari di atas kertas. Dan sekarang, lihat! Rindu membuat tubuhku gigil kala senja perlahan jatuh. Dengarkan! Ada yang ingin aku sampaikan. Lihat kantung mataku! Penuh dengan beribu-ribu rindu Beranak-pinak Semalam, baru saja selesai kutampung Dalam perjalanan menuju hatimu Kamu tahu? Itu adalah tempat ziarah dengan jarak paling jauh Lihatlah! Hujan malah menawanku Nakal menghanyutkan rindu yang susah payah kutampung Aku basah, Mengigil sebelum tiba dihatimu Sungguh, Tidak beruntungnya aku. #puisi rindu untuk meong #sabar ya meong

Kibar Kabar Guru - Mengenangmu

Fajar belum lagi sempurna, langitnya masih akan berpendar. Biru pada biru yang perlahan memudar. Sujud-sujud akhir telah purna dalam damai. Mengukir epitaf amal-amal. Janjikan keindahan setelahnya.  Untuknya, tubuh tua yang dengan sekuat tenaga meredakan perih pada luka-luka menganga, gelisah disapu debu pekat yang kian kelabu. Mengaduh pada dinginnya puing-puing dinding langit fajar yang hendak berpendar. Mencari sedikit kenyamanan yang semakin sulit, lalu kesempatan hidup yang sempit.  Simak!  Embun-embun dalam ayut- nya malam enggan bertahan pada tangkai-tangkai perdu. Beningnya luruh bersama sayap-sayap malaikat. Lantas, melangitlah doa-doa serupa iring-iringan pengantin, menghantarkan ruh suci menghadap Kekasih. Yang padanya, cahaya wajah bagai candu. Dirindu. Ingatlah!  Sebongkah dendam membara telah menikam perjuangan. Merampas sang hamba bersahaja. Meski raganya tidak mampu menopang, semangatnya kuat menembus langit, menggetarkan dada-dada yang di dala

Ingin Yang Memeluk

Aku beri nama rindu . Pertumbuhannya begitu cepat, bahkan jika kupangkas berkali-kali. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan hanya membiarkannya begitu saja. Ini memang sebuah pilihan dalam bentuk paling pasrah, bahkan teramat sangat pasrah. Mungkin, cara lain untuk mengatasinya adalah dengan menggila, ketika sedang membunuh waktu. Terjebak dalam kesibukan yang lelah, hingga tulang-tulang tidak lagi mampu menopang tubuh, lalu jatuh terkulai dalam lelap yang damai. Aku beri nama rindu. Sebuah rasa yang sejujurnya menyiksa. Menoreh perih kulit sampai ke jantung, kemudian dengan leluasanya perih itu merambat menembus hati,  hingga bernafas pun tidak lagi nikmat, lalu bergerak pun seakan penat. Aku kehilangan kata-kata. Tekakku sudah kering berhari-hari. Mencuri sadar dalam bimbang. Pikiran-pikiran yang tertawan. Masih tepekur memandang langit-langit malam. Sepintas lupa, bagaimana cara memejamkan mata. Pada taburan cahaya aku terpaku, tersesat tanpa tahu kemana arahn

Akhir Penantian Rindu (3)

Aroma obat menggelitik indra pembau Ruth. Memanggil kesadarannya ke permukaan. Mata indahnya kini terbuka sempurna. Mengamati lekat-lekat ruangan di sekelilingnya. Putih dengan sedikit campuran biru langit.  Di sisi sebelah kiri ranjangnya menempel meja kecil tempat untuk meletakkan beberapa barang. Ada sebotol air mineral di sana. Tenggorokan Ruth bereaksi setelah matanya merekam beningnya air yang terlihat segar dalam kemasan botol plastik. Mengirimkan satu kata yang dapat dicerna otaknya dengan tepat. Haus. Ruth hendak menggapai minuman itu. Karena tangan kirinya terpasang selang infuse, maka tangan kanannya spontan bergerak hendak menggapai. Namun sebelum tangannya terangkat dari tempat tidur, jari-jarinya terlebih dahulu menyentuh sesuatu.  Perlahan Ruth memalingkan wajahnya ke arah kanan. Terlihat seseorang dengan posisi membungkuk, tidur di samping ranjangnya. Ia duduk di kursi sedangkan kepalanya menunduk di atas kasur.  “Siapa?” tanya Ruth heran dengan suar

Akhir Penantian Rindu (2)

Pulang dari Indonesia. Rayan mendapatkan dua buah buku dengan tebal masing-masing 500 halaman. Berisi tentang kisah dan perjalanan saudara kembarnya yang bernama Rei, tentang keluarga dan orang-orang yang ia sayang. Pamannya juga menyerahkan sepucuk surat yang dititipkan Rei ketika berkunjung.  Usai membaca surat tersebut. Rayan segera menemui kakaknya di Rumah Sakit. Kondisi Rei sudah sangat payah. Untuk pertama kalinya dia melihat dan bertemu langsung dengan saudara kandungnya setelah sekian lama terpisah.  Wajah Rei sama persis dengan wajahnya. Keduanya mewarisi rupa indah dari sang ayah. Tinggi badannya juga sama. Perbedaannya saat itu ada pada tubuh Rei yang semakin lemah. Kanker otak bersarang di kepala, merenggut semua kekuatan usia muda saudara kembarnya. " Hhmmm ... Rei!" Ruth mulai sadar. Nama Rei masih tersisa di mulutnya. Tubuh wanita itu terasa kaku. Perlahan-lahan ia menggerakkan tangannya. Mengusap wajah dengan mata masih tertutup, lantas

Akhir Penantian Rindu

"Aku rindu" bisiknya pelan seraya melingkarkan tangan kanan diatas gundukan tanah. Memeluk. Pedih,  rasa teriris. Penantiaku memang berakhir, namun rindu ini belum usai, Rei. Di luar area pemakaman. Seorang pria dari kejauhan mengamati Ruth. Lama dan turut hanyut dalam kesedihan yang mengiris. Sama akan dirinya yang juga dirundung rasa serupa. Isak tangis yang berusaha ditahan wanita itu samar-samar terdengar olehnya. Terbawa angin yang berhembus dingin. Kau sungguh-sungguh kehilangan dia, Ruth? Hampir tiga puluh menit sejak Ruth merebahkan tubuhnya di samping makam Rei. Isak tangisnya juga tidak lagi terdengar. Merasa curiga, pria tersebut lantas menghampiri. Awalnya Ia berjalan perlahan, khawatir mengganggu wanita itu. Ia hanya ingin memastikan wanita yang berbaring di sisi makam itu baik-baik saja. Namun Ia merasa curiga begitu melihat tubuh di depannya tidak bergerak selain bernafas. Ruth,  Ruth ...! panggilnya sambil sesekali mengguncang tubu

Aku dan Mereka (2)

Matahari membelai wajah Elang dari balik jendela kaca. Matanya mengerjap beberapa kali. Saat kesadarannya telah purna, ia segera bangun. Tubuhnya terasa sangat lelah. Elang lantas berdiri dan menuju ke kamar. Semalam ia tidur di sofa karena kamarnya dipakai gadis aneh yang semalam ia temui. “Hei … apa kau sudah bangun?” panggil Elang sambil mengetuk pintu kamar. Tidak ada suara. Ketika gagang pintu ditekan ke bawah, pintu itu terbuka, “ya Tuhan, kemana gadis itu?” Elang mencari gadis kekanakan itu di seluruh ruangan apartemennya. Namun tidak ia temukan. Pikirnya mungkin gadis itu sudah pulang. Ada sedikit kekhawatiran yang merayap di hati. Khawatir jika gadis itu tersesat. Ah   … sudahlah, bukan urusanku. Handphone Elang berbunyi. Mas manajer menelponnya. “Halo …” sapa Elang. “Kamu dimana?” “Masih di apartemenku, mas. Sebentar lagi kesana.” “Ok …, ditunggu.” Usai berbenah diri, Elang meneguk habis kopinya yang tinggal sedikit, meraih kunci mobil dan

Aku Dan Mereka

Denting suara piano menghipnotis penonton. Mereka tersihir, asyik menikmati setiap nada yang dimainkan oleh sang pianis. Terasa menyayat hati kala bernada sedih namun di lain waktu sayatan itu terobati ketika nada-nada riang menyapa gendang telinga. Tepuk tangan lahir dari para penonton saat permainan sang pianis berakhir. Pemuda itu kemudian berdiri, membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat sekaligus ungkapan terimakasihnya pada mereka yang telah setia mendengarkan dan menikmati permainan jarinya selama kurang lebih satu jam. “Elang …, kau tampak hebat sekali tadi!” puji sang manajer. “Terimakasih …, setelah ini aku bisa segera pulang, bukan?” “Tentu saja, kenapa tidak. Apa kau membawa kendaraan atau ingin diantar pulang? “Aku bawa kendaraan. Sampai jumpa besok, Mas.” Elang menuju lapangan parkir. Lampu-lampu jalan tidak seluruhnya menyala, beberapa padam. Mobil Elang tepat berada pada posisi area parkir yang gelap. Segera ia masuk ke dalam mobil

Rindu Dalam Rindu

Suara lonceng angin berdenting merdu, mengusik kesadaran memanggil ruh kembali masuk dalam jasad yang baru saja lepas dari lelah. "Kau sudah datang? Sejak kapan? Iya, iya sebentar lagi aku bangun." mataku masih setengah terbuka, betah memeluk bantal lembut seputih awan. "Ohh... baiklah, aku bangun sekarang." sempurna sudah kesadaranku kini, sejak bibir lembut itu menyentuh dahi. Caranya selalu berhasil memaksaku bangun. Kutatap wajahnya lekat-lekat. Menjelajahi dahi hingga dagu, manis. menawan hati. Senyumnya mengembang, menularkan energi semangat pagi. Kuraih wajahnya, hendak menyentuh, namun sia-sia, hilang. "Kau pengganggu, tentunya pengganggu yang baik hati." umpatku mengepalkan tangan. Lihat, sekarang dia muncul lagi. Menyunggingkan senyum termanis lantas menghilang di balik pintu. "Yasa, apa kau sudah bangun?" teriak ibu dari ruang tamu. "Sudah bu." Aku beranjak keluar kamar menemui ibu lalu mengecup pipinya yang mu

Petikan Dawai

Klandestine, kupanggil kamu, lelaki yang jejalkan aneka imaji rasa. Suka, duka, bahagia dan berdarah mengenal prosa. Maaf, telah lancang kuselipkan perasaan lain dalam kantong-kantong aksara. Erat dan rapatkan serat kain tubuhmu, sebentar lagi kita sampai di tempat tujuan: gerbang kenangan. Simak baik-baik, lalu katakan apa yang kamu rasakan. Tenanglah, akan ada yang dapat kita dengar di balik kabut pada puncak bukit. Alunan nada dari petikan senar dawai hadirkan kekuatan, bagai menyihir, melodi indah di ujung tenggara itu hantarkan kita pada kisah yang tertinggal. Pahit manisnya sudah lama berserakan, tak terkendali. Yakin saja dengan apa yang dirasa, jujur dengan apa yang akan diucapkan, sampaikan dengan atau tanpa suara. Bahkan mungkin bahasa tubuh akan lebih mampu dibaca. Awan kini berkumpul, mata kita sesekali menangkap bentuk abstrak. Indah. Otakku sedikit penat dengan susunan aksara yang arusnya laju, ingin segera tumpah. Nanti, saat layar senja terbentang. Haru