Langsung ke konten utama

Postingan

Saya Percaya

Percayalah! Perutnya tidak akan pecah meski dengan rakus wanita itu menyantap segunung hidangan kata, mengunyah hingga lumat baris demi baris makna yang bersemayam dalam lembar-lembar kertas menguning, tipis, lentur nan rapuh.

         Percayalah! Sebanyak apapun wanita itu menenggak lautan hikmah, kepalanya tidak akan meledak. Bahkan dia akan terus merasa haus sebab kerongkongannya memang tidak pernah merasa cukup dengan aliran ilmu yang disesap.

         Di satu waktu, tepat di penghujung tahun yang lalu. Wanita itu menundukkan kepala dengan amat dalam, jari-jarinya mengetuk rumah besar yang dikenal dengan nama komunitas—tempat sekumpulan orang-orang yang ingin jadi penulis, meski tidak semua dari mereka punya tujuan dan tekad yang sama.

         Lagi, jari-jarinya mengetuk. Dia meminta bantuan.

         Untuk sekelas manusia lincah dan penuh semangat serta cerdas,  permintaan bantuan yang dimintanya tentu menarik perhatian. Lantas saya hampiri dia dalam bilik maya, menyap…
Postingan terbaru

Kisah Awal Aku Yang Belum Menyadari Siapa Aku

   -Bangun-
Hingar-bingar suara musik mengganggu lelap yang entah berapa lama, kapan pula dimulainya dan bahkan di mana? Aku berusaha membuka kelopak mata, tapi terasa berat. Apa karena terlalu lama tertidur, sehingga sempat kulupakan bagaimana caranya membuka mata? Sungguh, ini sulit sekali. Baiklah, aku tidak akan memaksa mata ini untuk terbuka. jadi biarkan saja sampai benar-benar siap dan jika memang sudah saatnya terbangun, maka aku akan bangun.
Perlahan hingar-bingar itu menghilang berganti desau angin yang membawa sadarku pada padang rumput yang tidak semua merata ditumbuhi rumput. Rumput-rumput dan tanaman liar tampak bergoyang mengikuti hembusan angin ke utara. Kali ini mataku terbuka, tanpa ada kesulitan seperti sebelumnya. Hanya saja ada yang berbeda, sinar matahari tidak seperti biasanya, tampak biru. Dan baru kusadari bahwa semua yang terlihat diterjemahkan biru oleh otak dan mataku. Apakah ini efek tidur yang terlalu lama? Tunggu, apa mungkin aku masih tertidur dan sekaran…

Mengalir

Alam pemandangan senja merupakan lambang waktu yang mengalir.

Segala sesuatu terus mengalir. (Heraclitus)

Dulu, dulu sekali, ketika kulitku masih sehalus bayi, dengan warna kulit yang putih bersih dan belum ternoda sengatan teriknya bundaran api pada siang di tengah lapang, ketika rambutku belum bertumbuh dengan lebatnya. Aku sering berpikir, kenapa aku bisa bersuara? Lantas dari mana asalnya kata suara? Bagaimana bisa suara itu terdiri dari huruf 'ES U A ER A'? Kenapa kata suara disebut sebagai kata dalam bahasa Indonesia? Dan selanjutnya pertanyaan itu lantas terus mengalir, lahir, beranak pinak, tanpa ujung, tanpa titik, bahkan tak berjeda, sebab terus menerus muncul begitu saja.

Jadi, bagaimana mengakhiri semua pertanyaan yang pada akhirnya membuat kepalaku berdenyut lalu merasa seakan-akan mengembang perlahan-lahan, semakin besar, besar, besar dan ketika merasa pembesaran itu membuatku lelah, maka satu-satunya cara untuk memangkas kelahiran pertanyaan-pertanyaan yang begi…

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

REVIEW BUKU



Judul : Nostalgia Biru
Penulis : Heru Sang Amurwabhumi, Vinny Martina, Wiwid Nurwidayati, Tita Dewi Utara, Dyah Yuukita, Nuha, Winda Astuti, Nazlah Hasni, Mabruroh Qosim, Hikmah Ali, Ane Fariz, Cenung Hasanah
Penerbit: Embrio Publisher
Genre: Fiksi, Antologi
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 176 hlm. 14 x 20 cm

Membaca judulnya dari kata pertama, NOSTALGIA; otomatis mengantarkan kita pada segudang kenangan. Lantas BIRU; yang mengandung rindu, pertemuan, cinta, sekaligus pilu dan sedih yang mengaduk perasaan, merangkumnya menjadi warna-warni kisah yang bisa diambil hikmahnya. 
Di awal, imajinasi saya dibawa berpetualang dalam deskripsi serta konflik yang apik pada kisah Memoar Kubah Langgar. Jangankan mereka yang mengalami kisah berdarah itu dengan mata kepalanya sendiri, saya yang cukup melihatnya (membaca) lewat kata-kata Mas Heru saja sudah terbawa rasa perih dan ngeri. Tulisan ini luar biasa.
Pada Hikmah, air mata saya dibuat mengambang, mengisi rongga di sudut mata. Bayangan k…

Di Keningku Mereka Tuliskan Satu Kata

Aku yakin itu hanya mimpi. Tapi mereka bilang aku mengada-ada.

Aku yakin itu nyata. Tapi mereka bilang aku berkhayal saja.

Aku yakin baik-baik saja. Tapi mereka khawatir sejadi-jadinya.

Aku yakin tidak melakukan apa-apa. Tapi mereka bilang aku adalah ancaman yang berbahaya.

Di keningku, mereka tuliskan satu kata. Gila!!

***

"Bagaimana kejadiannya?" tanya pria berseragam putih di hadapanku.

Aku terdiam beberapa detik, menutup mata, memanggil ingatan yang masih saja pudar. Setelah mampu mengingat bagaimana awal dari kejadian itu, mengalirlah kata-kata membentuk kalimat, menjadi cerita.

Pagi beranjak siang atau siang beranjak sore, samar-samar waktu kuingat. Bahkan bisa jadi saat itu subuh menjelang pagi. Entahlah, aku masih belum yakin. Seorang anak tiba-tiba saja masuk dari jalan samping menuju ruang makan. Dia berdiri di ambang pintu. Mengenakan baju kaos berwarna hijau tua, sedikit kebesaran, sebab ujungnya hampir menyentuh setengah paha. Berpadu dengan celana pendek longg…

Dia Pernah Ada di Sini

Bukankah sudah kuceritakan sosoknya yang ramah namun tidak segan marah jika satu dua hal tidak pantas terlihat di mata? Belum pernah dengar, ya? Baiklah, akan aku ceritakan bagaimana wanita dengan tinggi kurang lebih 165 cm itu pernah mengisi hari-hari dalam bangunan berlantai tiga ini. Baiknya dimulai dari mana? Aktivitas di balik meja kerja dengan posisi tepat di depan pintu masuk ruang kantor, atau tentang penampilan yang selalu sesuai selera? Ahh..., bagaimana kalau kumulai dari awal pertama dia menginjakkan kaki disini? Ada hal menarik yang sampai sekarang tidak bisa hilang.  Ini tentang corak baru pada jilbab hitam favoritnya yang tanpa sengaja menempel di dinding yang baru saja selesai dimandikan dengan cat minyak sewarna awan. Tentu saja putih itu tidak dapat ditutupi atau dihilangkan begitu saja. Dan dia pasrah, bahkan sesekali dengan santai mengenakan kembali jilbab corak baru-demikian nama untuk jilbab kesayangan- di hari-hari kerja.
Di sela-sela kesibukan mengajar, a…

Mengenalmu dengan Baik

Aku sudah berada disini sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi bisa jadi lebih dari atau kurang dari itu, entahlah. Aku merasa sudah terlalu tua dan begitu lama berada di sini. Menatap pemandangan yang sama setiap waktu, kadang kosong, kadang riuh dengan aktivitas yang tidak pernah habis. Yah, kamu yang mengisi kekosonganku itu dengan berbagai celotehan, kadang pula dengan nyanyian yang lirik dan nadanya tidak jelas dari lagu berjudul apa. Sekali waktu, bahkan sedikit sering, kamu membaca potongan ayat dari salah satu surah yang entah bagaimana, mungkin karena isi otak terlalu penuh, ayat-ayat tersebut jarang sekali usai, bahkan bisa jadi menyeberang atau menyambung ke surah yang lain. Jika sudah begitu, aku hanya bisa tertawa, tentu saja caraku tertawa berbeda denganmu. Menggoyangkan bagian tubuh yang tertutup debu, atau bergeser sedikit dari posisi duduk agar terdengar gesekan besi dengan batang paku adalah caraku tertawa. Tentu saja kamu tidak tahu, karena jelas kita berbeda, ka…