Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2016

DOA

Apaaa...oh tidak...!"

Ima terlonjak kaget dengan hasil tesnya. Ini kali keduanya Ia harus melotot melihat alat tes kehamilan setelah sebelumnya sekitar 7 atau 8 bulan yang lalu ia juga melakukan hal yang sama.

"Duh Gusti nu agung...kunaon iyeu teh?"

Ima hanya dapat memasrahkan kepada Satu-satunya Tuhan dalam hidupnya. Hamil lagi diusia tua (baginya) tak pernah ia rencanakan apalagi dibayangkan, tidak dan terlalu mustahil. Namun kenyataannya kini itu berlaku padanya. Positif dengan garis dua.

Pasrah, karena Ima malu, sebelumnya sekitar 7 atau 8 bulan yang lalu, Ia meronta pada Tuhannya, tak terima jika ia hamil di usai 45 tahun. Marah, kesal dan takut jadi satu dalam menghadapi kehamilan anak keenamnya kali ini. Diusia yang tak lagi muda, bagaimana Ia bisa kuat untuk mengandung, karena diusia muda saja rahimnya tak cukup kuat, apalagi diusia 45 tahun.

"Apa kata dunia, apa kata keluarga besarnya, bagaimana pula respon suaminya nanti." Cemas Ima semakin menghantu…

Peran

Aku sedang belajar berperan. Menjadi sosok lemah butuh bantuan, dilain waktu menjadi sosok kuat yang ingin membantu, kemudian beralih pada pribadi acuh yang hanya mampu berdiam diri dan tak peduli.

Setiap peran kunikmati, senang-sedih, riuh-sunyi, mudah-sulit, pahit-manis, semua dirasa penuh hikmah. Bentuk syukur yang harusnya ada, karena pemilik jiwa menuntutku begitu adanya.
Jalani, jalankan dan jalanlah..begitu bisikku pada ruh dengan iman yang masih rapuh, berusaha tetap dijalan-Nya walau kadang tapak-tapak ini keluar jalur.
Peran-peran itu pilihan, namun takdir adalah ketetapan Tuhan.

Paksa

Oke..cukup sudah kebuntuan ini, tak ada yang muncul, imajinasi masih tetap koma, dan..oh..sungguh otakku buntu layaknya jalan yang ditutup pagar tinggi dalam gang sempit.

Baiklah..sudah cukup dengan teori pembiasaan, yang awalnya akan terasa sulit, seperti jika kita jarang atau bahkan tidak pernah olahraga kemudian mulai olahraga, maka setelahnya tubuh terasa sakit. Karena segala sesuatu yang baru dimulai memang akan terasa sulit, itu pasti.

Sudah kenyang pula aku melihat semangat teman-teman pejuang tinta lainnya yang dalam sehari mengirimkan info kelahiran karya-karya mereka lebih dari membuatku iri, lalu pada akhirnya semangat mereka berhasil menteror dan menghantuiku. Ini sungguh menakutkan, tapi.. mengapa aku masih tetap diam saja..?

Kuambil satu buku, membacanya dengan awal yang tak bergairah, tapi entah mengapa tubuhku tetap betah duduk berlama-lama walau hatiku berkata "malas". Yah..baguslah, jika kuturutkan nafsu ini, bisa jadi hancur mimpi menjadi penulis. Meminjam…

Lupa

Menerima lupa.
Biasanya kita sering mendengar kalimat melawan lupa. Tapi tidak bagiku, aku lebih memilih kata menerima daripada melawan. Hanya lelah yang akan di dapat jika mati-matian melawan penyakit tersebut.

Pikirku jika kita menerima kealpaan itu, mungkin akan membantu melapangkan dada saat menghadapi hal yang tidak menyenangkan karena lupa tadi.

Sabar pada akhirnya..begitulah pikirku.
Kealpaan yang sering terjadi padaku adalah lupa dengan seseorang yang wajahnya menunjukkan keakraban padaku, dan sebaliknya aku dengan kening berkerut berusaha mengingat siapa dia.

Kembali menerima lupa..kusampaikan kata pamungkas "maaf..siapa ya?"

Malu, itu pasti, tapi bagaimana lagi..jika memori itu pergi tak kembali mengapa harus bersusah payah mencari yang telah pergi. Terima saja dan perbaiki.

Menerima lupa..lakukan saja.