Langsung ke konten utama

Topeng (bag.3)

-Masa Lalu-



Hera kecil sering kali di-bully oleh teman-temannya. Kala itu ia berusia 8 tahun, tubuhnya yang kecil dan lemah membuat ia menjadi sasaran empuk. Tidak ada satupun yang dapat membantunya, lebih tepatnya tidak ada yang mau. Sepulang dari bermain, sambutan kasar juga ia terima dari keluarga, tepatnya keluarga angkat. Hera diadopsi pada usia 2 tahun. Dengan niat sebagai pancingan agar kedua orang tua angkatnya bisa segera mendapat momongan. Tapi usaha ini belum menunjukkan hasil seperti yang diinginkan. 

Saat Hera berusia 10 tahun Ibu angkatnya pun hamil. Kehamilan yang ditunggu-tunggu selama 9 tahun, sebelumnya beberapa kali Ibu angkat Hera ini sudah pernah hamil, sayangnya setiap kali hamil justru ibunya juga mengalami keguguran lagi dan lagi. Kehamilan ketiga kali ini dijaga ketat dan ekstra hati-hati, namun takdir berkata lain, saat ibu angkatnya mengandung pada usia kehamilan 8 bulan, kecelakaan tragis menyebabkan nyawa ibu dan calon adiknya itu melayang. Duka mendalam dialami keluarga angkat Hera, terutama ayah angkatnya. Entah bagaimana Hera malah dicap sebagai pembawa sial bagi keluarga.

Setahun kemudian Ayah angkat Hera menikah lagi, kali ini Hera pun tetap mendapatkan perlakuan kasar yang sama. Terlebih ketika ibu tirinya telah melahirkan seorang anak. Posisi Hera di rumah tak lebih dari seorang pembantu. Bangun paling awal dan tidur paling larut. Kehidupan yang rumit ini berjalan hingga Hera menginjak usia remaja.

17 tahun, usia dimana para remaja bersuka cita untuk pertama kali identitasnya diakui dengan terdaftar dan memiliki Kartu Tanda Pengenal. Kemudian untuk kali pertama juga bergaya diatas kendaraan yang masih milik orang tua dijalan raya karena memiliki Surat Izin Mengemudi, walau sebenarnya sebelum usia yang disepakati, seringkali curi-curi mengendarai kendaraan dijalan raya dengan puasnya. 17 tahun, jika mereka para remaja hidup dengan sukacita lagi bahagia, maka tidak dengan Hera. Ia dipandang tak lebih dari seonggok sampah.

"Pergi kamu..dasar manusia tak tau diuntung!" Maki ayah Hera mengusir anak angkatnya.

"Jangan pernah lagi memperlihatkan wajahmu didepan kami!" Sambung Istri kedua ayah angkatnya lebih berang lagi.

Hera bangkit dari duduknya dengan kepayahan. Kaki, tangan dan tubuhnya dibalut rasa sakit yang berdenyut akibat pukulan bertubi-tubi dari hukuman yang diberikan. Kesalahannya tak seberapa, tapi balasannya sebanding dengan pelaku kriminal tingkat dunia. Ia hanya mampu meringis tanpa suara, jika sebelumnya tanpa berbuat salahpun Ia sering mendapat hukuman dan kemarahan, apakan lagi jika dia benar-benar membuat kesalahan.

Siang itu Hera mengasuh adik dari istri kedua ayah angkatnya yang masih berusia 3 tahun. Tak ada siapa-siapa dirumah, hanya Hera dan adiknya saja. Bermain bersama adik adalah saat-saat paling membahagiakan, apalagi Didi begitu biasanya Hera memanggil si adik kecil, kini sedang dalam masa lucu-lucunya. Hanya bersama Didi senyum di wajah Hera akan terlihat, senyum yang selama ini tak pernah ada dalam kamus hidupnya sejak 15 tahun hidup dalam keluarga angkatnya.

"Tunggu disini ya, kakak mau kedapur sebentar!" Perintah Hera lembut dan penuh kasih pada Didi yang menemaninya menyetrika baju siang itu.

Tak lama kemudian..

"Aaa..!!" Didi kecil berterik kencang, tangannya melepuh terkena setrika bersuhu panas.

Belum sampai 5 menit Hera meninggalkan Didi di ruang pakaian, Ia kembali lagi ke ruangan itu dengan tergopoh-gopoh. Setrika yang Hera letakkan sebenarnya cukup tinggi, namun adik kecilnya masih dapat menggapai kabel setrika dan menariknya hingga jatuh menimpa tangan. Hera mengutuk diri sendiri, kelalaiannya berakibat kesakitan bagi Didi.

Hera secepatnya berusaha mengobati luka bakar ditangan Didi. Mulai dari pasta gigi, minyak goreng, kecap sampai oli motor sudah ia oleskan. Syukurlah tangan kecil itu akhirnya tidak melepuh, walau tetap berwarna merah jambu. Luka Didi sudah dapat diatasi namun murka ayah dan ibu tiri tak dapat Ia hindari.

15 tahun Ia hidup, tumbuh dan besar dirumah ini. Untuk kali pertama kesalahan yang dibuatnya terhadap Didi, berakhir pada pengusiran tak mengenal rasa kasihan. Hera mengemasi barang-barangnya, tak banyak yang dapat Ia bawa, beberapa potong baju termasuk seragam sekolah beserta buku-buku pelajaran. Hera kemudian melangkah gontai menyusuri jalan menuju pintu keluar. Berhenti sejenak didepan kamar Didi mengucapkan selamat tinggal dalam hati dari luar kamar. Setelah ini Ia tak akan dapat lagi melihat wajah lucu adik kecilnya itu. Perpisahan ini sungguh mengerikan.

Bersambung ke.. bag.4

Komentar

  1. Bener2 memancing emosi...

    Hera ke rumahku saja, he

    BalasHapus
  2. Emosi marah atau sedih nih yang terpancing?

    Mba inet udah jelas T_T

    BalasHapus
  3. Sedih sekali bacanya, tega yaaa...berair mataku..hiks..hiks

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jujur saya juga nangis mba. diparagraf terakhir. :(

      Hapus
  4. Penasaran si Hera mau kemana... hehehe

    BalasHapus
  5. Mungkin ke Hutan lalu mengaduh sampai gaduh
    Atau ke Pantai melepas derai.
    Hehe..masih dipikirkan mba..sabar ya cantik.

    BalasHapus
  6. Mungkin ke Hutan lalu mengaduh sampai gaduh
    Atau ke Pantai melepas derai.
    Hehe..masih dipikirkan mba..sabar ya cantik.

    BalasHapus
  7. Hera, nama yg mengingatkan kpd Bintang Pagiku yg tlah hilang.
    Duh .... 😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah..hayoo. hilang kemana tuh mas heru

      Hapus
  8. Hera...jadi ingat mitology Yunani. Istri Zeus ya kalo gak salah?

    BalasHapus
  9. Ayoooo patungan jagain Hera di rumah masing2 :D

    BalasHapus
  10. aku sukaaaa ceritanya mbak Na....^_^

    BalasHapus
  11. Miris dan hampir menggenang di paragraf terakhir.

    BalasHapus
  12. Sekejam Ibu Kota kata Mas Aim dalam Kisah Kupu-kupu dan Harapan part 4
    :)

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenalmu dengan Baik

Aku sudah berada disini sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi bisa jadi lebih dari atau kurang dari itu, entahlah. Aku merasa sudah terlalu tua dan begitu lama berada di sini. Menatap pemandangan yang sama setiap waktu, kadang kosong, kadang riuh dengan aktivitas yang tidak pernah habis. Yah, kamu yang mengisi kekosonganku itu dengan berbagai celotehan, kadang pula dengan nyanyian yang lirik dan nadanya tidak jelas dari lagu berjudul apa. Sekali waktu, bahkan sedikit sering, kamu membaca potongan ayat dari salah satu surah yang entah bagaimana, mungkin karena isi otak terlalu penuh, ayat-ayat tersebut jarang sekali usai, bahkan bisa jadi menyeberang atau menyambung ke surah yang lain. Jika sudah begitu, aku hanya bisa tertawa, tentu saja caraku tertawa berbeda denganmu. Menggoyangkan bagian tubuh yang tertutup debu, atau bergeser sedikit dari posisi duduk agar terdengar gesekan besi dengan batang paku adalah caraku tertawa. Tentu saja kamu tidak tahu, karena jelas kita berbeda, ka…

Lagu Yang Menyentuh Hati

LIRIK LAGU
رحمن يا رحمن Rahman, ya Rahman ساعدني يا رحمن Sa'idni Ya Rahman bantulah aku..Yang Maha Penyayang اشرح صدري قرآن Israh Shodri Qur'an penuhi hati ini ( dengan cinta) dari Al-Qur’an أملأ قلبي قرآن Imlak Qolbi Qur'an lapangkan dadaku hanya untuk Al-Qur’an واسقي حياتي قرآن Wasqi Hayati Qur'an Sirami hidupku dengan Al-Qur’an .
لله لله يهفو أملي لله Lillah Lillah hanya untuk Allah, begitu mendalam keinginankukarena Allah… Yahfu amalilillah ولحفظِ كتابِ الله Walihifdhi Kitabillah bisakah aku mempelajari Al-Qur’an من أولِ باسم ِ الله Min Awwali Bismillah dimulai dengan “Bismillah…” للختم وللرضوان Lil Khotmil Wa Lirridwan

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

REVIEW BUKU



Judul : Nostalgia Biru
Penulis : Heru Sang Amurwabhumi, Vinny Martina, Wiwid Nurwidayati, Tita Dewi Utara, Dyah Yuukita, Nuha, Winda Astuti, Nazlah Hasni, Mabruroh Qosim, Hikmah Ali, Ane Fariz, Cenung Hasanah
Penerbit: Embrio Publisher
Genre: Fiksi, Antologi
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 176 hlm. 14 x 20 cm

Membaca judulnya dari kata pertama, NOSTALGIA; otomatis mengantarkan kita pada segudang kenangan. Lantas BIRU; yang mengandung rindu, pertemuan, cinta, sekaligus pilu dan sedih yang mengaduk perasaan, merangkumnya menjadi warna-warni kisah yang bisa diambil hikmahnya. 
Di awal, imajinasi saya dibawa berpetualang dalam deskripsi serta konflik yang apik pada kisah Memoar Kubah Langgar. Jangankan mereka yang mengalami kisah berdarah itu dengan mata kepalanya sendiri, saya yang cukup melihatnya (membaca) lewat kata-kata Mas Heru saja sudah terbawa rasa perih dan ngeri. Tulisan ini luar biasa.
Pada Hikmah, air mata saya dibuat mengambang, mengisi rongga di sudut mata. Bayangan k…