Postingan

Menampilkan postingan dari September, 2016

Pieces of Beauty - 5

Empat hari sudah Dania dan kelompok pecinta alam melaksanakan kegiatan di Bukit Kelam. Adnan tidak mendapatkan kiriman foto sejak itu. Ada perasaan rindu yang menyerangnya, ingin segera ia melihat hasil foto-foto yang secara rutin dikirim Dania, dan tentu saja ia juga rindu pada si gadis ceria sekaligus keras kepala itu.

     Adnan meraih kameranya. Rindu yang ia rasakan kali ini berhasil membawanya sudi untuk menyentuh kembali benda yang selama ini menjadi teman sejati dalam menyimpan momen berharga di setiap pendakian.
     Cklik ... cklik ..., Adnan mencoba kameranya. Tidak berubah, masih bagus. Batinnya menilai hasil gambar dilayar kamera. Harusnya gadis itu belajar padaku sebelum bertekad mengumpulkan foto-foto. Suara hatinya angkuh mengakui kepiawaiannya dalam mengambil gambar.
     "Adnan ... Adnan!" panggil ibu dari ruang tengah.
     "Ya ... bu!" segera Adnan beranjak keluar dari kamarnya, menghampiri ibu.
     "Ada temanmu, di ruang tamu." …

Pieces of Beauty - 4

Sebuah foto dengan gambar ruangan yang sangat Adnan kenal, base camp pecinta alam. Tentu saja terlihat berantakan, seperti biasanya. Dan ada surat yang disertakan bersamaan dengan foto tersebut. Surat ini dikirim kemarin, kenapa tidak diantar langsung kerumah? Protes Adnan dalam hati.

"Hai Adnan, lusa kami akan ke Bukit Kelam. Aku sedang bersiap-siap hari ini. Apa kau masih belum mau ikut? Ayolah Adnan, ini sudah satu semester lewat. Apa patah hatimu akan terus berlanjut? Sampai kapan? Jika kalimatku ini tidak terbukti, kutunggu diperjalanan besok. Ok! "

Gadis keras kepala! Aku bukannya patah hati akut, entah kenapa aktifitas mendaki atau sejenisnya sudah tidak lagi menarik sekarang dan tentu saja tidak membuat hatiku nyaman. Mungkin Dania benar, aku patah hati. Tapi terserahlah, aku hanya ingin seperti ini.

     Adnan memasukkan kembali foto keempat puluh enam itu ke dalam amplop. "Maaf Dania,  fotomu kali ini tidak membuatku rindu atau tertarik mencoba lagi keserua…

Pieces of Beauty - 3

Ya ... Dania benar, Aku kini mulai menikmati foto-foto yang dikirimnya. Gadis itu mulai berhasil menyeretku keluar dari kelabunya hati sejak ditinggal Suci. Adnan kembali melihat lembaran foto satu persatu.

     Total keseluruhannya ada empat puluh lima lembar foto sekarang. Dania rutin sekali mengirimkannya. Bagai batu yang ditetesi air terus menerus, seperti itulah Adnan kini. Walau belum sepenuhnya mengakui keindahan objek dalam foto-foto itu, tapi kehadirannya yang menggambarkan dunia di luar sana melalui mata Dania membuat Adnan bersemangat. Menanti gambar berikutnya lagi dan lagi.

 Daun jatuh. Kau pandai sekali Dania, ini titik balikku. Gambar ke dua puluh lima itu telah menghentak kesedihanku. Memang tidak sepenuhnya, tapi Aku mulai bergerak dan sedikit bosan dengan ruang tidurku. 

"Apa Kau akan keluar, Adnan?" tanya Ibu yang sedang menyirami taman Orchidaceae ketika Adnan, anak semata wayangnya itu melintas di depan rumah anggrek yang berukuran cukup besar. Ibu Adnan a…

Pieces of Beauty - 2

"Adnan, Papa tidak mau bertemu denganmu." Suci tertunduk lesu.

     "Kenapa, ada yang salah dengan niatku?" aku heran menatap gadis manis didepanku.

     "Aku juga tidak tahu, Papa tidak memberikan alasan apapun. Aku bingung." Suci terpejam, menutupi mata yang sedari tadi berkaca-kaca. Ia tidak ingin aku melihatnya menangis. Gadis malang.

     "Tenanglah, mungkin aku yang terlalu terburu-buru. Seharusnya ini bisa direncanakan lebih baik. Sampai menunggu waktu yang tepat, berusahalah mencari tahu alasan penolakan itu!" pintaku pada Suci.

     Ya Tuhan, aku salah apa? Niatku baik, tidak ada yang ganjil dengan itu. Jika kuliah yang belum selesai menjadi penyebabnya atau pekerjaan yang belum jelas diketahui. Bukankah lebih baik mendengarkan dulu semuanya dariku. Aku bisa dengan sangat baik menjelaskan semua pada orangtua Suci. Terutama pada Papanya. Apa keinginanku untuk menikah ini dianggap main-main? Maaf saja, aku justru sudah mempersiapkan …