Topeng (bag.4)

-Mimpi Yang Nyata-

Polisi masih memeriksa tempat kejadian guna melaksanakan penyelidikan. Berusaha mencari dan menemukan barang bukti yang nantinya dapat menjadi petunjuk siapa pelaku pembunuhan. Dilantai tergeletak tubuh seorang wanita bersimbah darah yang kini ditutupi kain putih. 

"Wajahnya hampir tidak bisa dikenali" Seorang Inspektur memberitahukan kondisi korban pada rekannya.

"Apa sehancur itu?" Tanya rekannya hampir tak percaya.

"Jika kau cukup kuat untuk melihatnya, silahkan..!" Tawar Inspektur dengan senang hati, karena Ia tau..rekannya ini paling lemah berhadapan dengan mayat-mayat yang tak lagi utuh rupanya.

"Jangan bercanda Bob, Kau kan tau kelemahanku."Jawab Rudi yang merupakan rekan Inspektur Bobby, sambil berlalu dari tempat dimana posisi mayat tergeletak.

"Ya sudah..kalau begitu baca saja laporan sementaranya!" Usul Inspektur Bobby pada rekannya.

"Mita Damayanti. Usia 26 tahun. Korban ditemukan oleh petugas keamanan yang berjaga di malam hari. Perkiraan kematian sekitar 3 jam sejak ditemukan. Korban adalah salah satu karyawan di Perusahan Swasta. Bekerja kurang lebih selama 4 tahun." Rudi membaca laporan yang diterimanya dari Bobby.

"Apa ini masih berkaitan dengan pembunuhan sebelumnya?, mereka sama-sama karyawan diperusahaan yang sama kan?" Rudi mengajukan pertanyaan untuk dirinya sendiri. Walau demikian, Bobby tetap menganggukkan kepala sebagai jawaban untuk rekannya.

*****

Suara HP membangunkan Pak Dimas yang sedang lelap dalam tidurnya. Tak lebih dari 5 detik matanya benar-benar terbuka utuh tanpa sisa rasa kantuk demi mendengar berita yang disampaikan oleh orang yang menghubunginya diseberang sana.

Salah satu karyawannya kembali ditemukan terbunuh dilantai 25 dalam gedung perusahaan. Perintah dari atasan yang barusan didapat adalah membuat berita ini tidak sampai menyebar di media massa. Jelas fatal akibatnya bagi perusahaan jika berita itu sampai tercium dan tersebar diluar sana.

Jika korban pembunuhan sebelumnya juga ditemukan sebagai karyawan perusahan ini, maka itu tidak terlalu menjadi masalah sebab korban ditemukan jauh diluar gedung perusahaan. Sehingga dapat diduga sebagai korban tindak kriminal di jalanan Ibu Kota. Tapi untuk kali ini kasus pembunuhan ditemukan dalam gedung perusahaan. Pimpinan mana yang tidak akan pecah kepalanya memikirkan hal serumit ini.

Pukul 1 pagi Pak Dimas sudah berada di perusahaan untuk menangani masalah yang terjadi. Beliau juga berusaha menjalin kerjasama yang baik dengan polisi selama penyelidikan di TKP berlangsung. Tepat pukul 6 pagi, sesuai harapan maka penyelidikan selesai dilaksanakan. Garis polisi terpasang di lantai 25, tak boleh ada yang melewatinya. Mayat Korban juga sudah dibawa guna penyelidikan lebih lanjut. 

Media massa sudah diatasi dengan pengalihan isu bahwa korban yang ditemukan meninggal sebab serangan jantung. Tak ada yang tidak mungkin untuk merubah sesuatu sesuai kehendak jika uang sudah bertindak. Demi nama baik perusahaan, maka apapun akan dilakukan. 

Beberapa tugas yang tersisa salah satunya adalah memberikan santunan pada keluarga korban. Selebihnya menyusul untuk segera dilaksanakan. Pak Dimas benar-benar kelelahan, tenaga dan pikirannya terkuras selama 5 jam. Inilah yang diharapkan atasan kepada Pak Dimas, mereka percaya bahwa masalah ini akan diatasi oleh tangan dingin manajer terbaik mereka. Dipuncak lelah dan kantuk yang melanda, Pak Dimas pun tertidur di ruang kerjanya.

*****

Hera bergegas menuju tempat kerja, mimpi tadi malam membuatnya penasaran. Jika dugaannya benar, itu berarti Ia dapat melihat sesuatu terjadi dimasa depan. Apa ini sebuah anugerah atau kelainan yang ia dapat pasca tabrakan? hal inilah yang ingin dipastikan.

Hera menyelinap diam-diam menyusuri tangga menuju lantai 25. Di luar tadi dia sempat mencuri dengar pembicaraan petugas  keamanan yang berjaga kemarin malam. Dari obrolan mereka Hera menaruh curiga, besar kemungkinan firasatnya benar.

Dengan perasaan sedikit takut Hera melangkahkan kakinya. Nafasnya menderu dan langkahnya mulai lemah, terbagi antara takut dan rasa lelah. Ia memang sering pergi ke lantai 25 tapi menggunakan lift, dan baru kali ini nekat keatas menggunakan tangga. Lantai 25 digunakan sebagai tempat penyimpanan dokumen, hampir jarang difungsikan. Hanya karyawan magang sepertinyalah yang sering berkunjung untuk menjalankan tugas dari atasan.

Pintu lantai 25 sudah di depan mata, Hera kaget melihat garis polisi terpasang didepannya. Demi memuaskan rasa penasarannya, Hera memberanikan diri membuka pintu itu. Ia sudah terlanjur naik, jadi dia harus tetap melangkah masuk.

Seperti adegan film yang diputar ulang, Hera mengingat kembali mimpi tadi malam. Saat sadar dari lamunan, bagaikan ada aliran listrik yang menyengatnya ketika melihat gambar letak mayat yang terukir diatas lantai. Hampir saja Hera menjerit ketika seseorang memegang pundaknya.

"Pak Dimas..?" Hera menghembuskan nafas dengan kencang. Ada rasa lega meraba hatinya.

"Kamu kenapa disini? Apa tidak lihat ada garis polisi yang dipasang di depan lift dan pintu menuju tangga?" Tanya Pak Dimas sedikit marah. Ia yakin Hera tidak bodoh untuk memahami itu, kecuali karena rasa ingin tahunya.

"Maaf Pak Dimas, saya hanya ingin mencari dokumen. Kemarin Ibu Mita meminta saya untuk mengambilnya, hanya saja saya belum sempat." Hera menjelaskan maksud tujuannya nekat ke lantai 25 walau tau jika ada garis polisi terpasang.

"Sudahlah, area ini harus dikosongkan, tidak boleh ada yang masuk karena dikhawatirkan akan mengganggu proses penyidikan polisi nantinya. Ayo kita turun! Liftnya sudah bisa berfungsi sekarang." Jelas Pak Dimas kepada Hera, kemudian mengajak Hera meninggalkan tempat itu.

"Si..siapa yang..itu..eh..meninggal?" Hera tergagap bertanya untuk memulai percakapan ketika sudah berada didalam lift. Tapi sayang kalimatnya kacau bahkan Ia salah memilih kata.

"Korban..maksudnya?"Pak Dimas balik bertanya. Sebenarnya ingin tertawa minimal tersenyum mendengar kalimat pertanyaan Hera tadi, tapi tidak bisa karena kondisi pikirannya yang terlalu suram.

"Iya..maksud saya itu." Sambar Hera cepat.

"Yang menugaskanmu mengambil dokumen kemarin." Jawab Pak Dimas

Mita..berarti mimpiku benar, tapi kenapa bisa begitu? Hera tenggelam dengan pikirannya.

Pintu lift terbuka, Mereka keluar dengan pikirannya masing-masing. Hera dengan mimpinya yang tak masuk akal tapi nyata dan Pak Dimas yang bingung dengan kejadian pembunuhan yang kedua.

Bersambung...  bag.5


Postingan populer dari blog ini

Mengenalmu dengan Baik

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

Dia Pernah Ada di Sini