Langsung ke konten utama

Renungan Bimbang

Hanya angin yang paham bagaimana berhembus.
Begitupun hujan yang paham rasanya terjun bebas.
Langit gelap yang tau pekat hitamnya.
Juga awan..tentang apa yang dikandungnya.

Perhatikan sunyi dalam sepinya
Lalu siang yang riuh dengan kebisingannya.

Jika masing-masing paham akan rasanya.
Kenapa aku masih tersesat mencari arah?

Aku..
Berdetik-detik kalut dengan hati
Tak habis menit kulahirkan tanya
Entah berapa jam menunggu jawaban
Jiwaku kosong tak bertuan
Sedang waktu kian melenggang
Pergi jauh meninggalkan yang lalu
Aku masih belum punya tujuan.
Lagi tak dapat menentukan.

Aku bimbang..

Sejenak..
Mengheningkan cipta untuk jiwa kosong dengan ruh yang keruh.
Berharap jadi lautan yang bersimpati dengan garam sebab ia tau bagaimana asinnya
Tapi aku hanya makhluk tanah
Yang resah mencari arah

Ah..biarlah,
Akan kubujuk Tuhan dengan posisiku
Makhluk tanah ini sedang mencari makna
Semoga Dia sudi memercikkan hikmah.

Tuhan..
Aku bimbang
Mohon bimbing aku
Menuju takdir terbaikmu
Sampai saat waktu untuk bertemu.

Ponti,15/4/2016
(Catatan renungan..aku harus kembali belajar berdiri)



Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenalmu dengan Baik

Aku sudah berada disini sejak sepuluh tahun yang lalu. Tapi bisa jadi lebih dari atau kurang dari itu, entahlah. Aku merasa sudah terlalu tua dan begitu lama berada di sini. Menatap pemandangan yang sama setiap waktu, kadang kosong, kadang riuh dengan aktivitas yang tidak pernah habis. Yah, kamu yang mengisi kekosonganku itu dengan berbagai celotehan, kadang pula dengan nyanyian yang lirik dan nadanya tidak jelas dari lagu berjudul apa. Sekali waktu, bahkan sedikit sering, kamu membaca potongan ayat dari salah satu surah yang entah bagaimana, mungkin karena isi otak terlalu penuh, ayat-ayat tersebut jarang sekali usai, bahkan bisa jadi menyeberang atau menyambung ke surah yang lain. Jika sudah begitu, aku hanya bisa tertawa, tentu saja caraku tertawa berbeda denganmu. Menggoyangkan bagian tubuh yang tertutup debu, atau bergeser sedikit dari posisi duduk agar terdengar gesekan besi dengan batang paku adalah caraku tertawa. Tentu saja kamu tidak tahu, karena jelas kita berbeda, ka…

Lagu Yang Menyentuh Hati

LIRIK LAGU
ุฑุญู…ู† ูŠุง ุฑุญู…ู† Rahman, ya Rahman ุณุงุนุฏู†ูŠ ูŠุง ุฑุญู…ู† Sa'idni Ya Rahman bantulah aku..Yang Maha Penyayang ุงุดุฑุญ ุตุฏุฑูŠ ู‚ุฑุขู† Israh Shodri Qur'an penuhi hati ini ( dengan cinta) dari Al-Qur’an ุฃู…ู„ุฃ ู‚ู„ุจูŠ ู‚ุฑุขู† Imlak Qolbi Qur'an lapangkan dadaku hanya untuk Al-Qur’an ูˆุงุณู‚ูŠ ุญูŠุงุชูŠ ู‚ุฑุขู† Wasqi Hayati Qur'an Sirami hidupku dengan Al-Qur’an .
ู„ู„ู‡ ู„ู„ู‡ ูŠู‡ููˆ ุฃู…ู„ูŠ ู„ู„ู‡ Lillah Lillah hanya untuk Allah, begitu mendalam keinginankukarena Allah… Yahfu amalilillah ูˆู„ุญูุธِ ูƒุชุงุจِ ุงู„ู„ู‡ Walihifdhi Kitabillah bisakah aku mempelajari Al-Qur’an ู…ู† ุฃูˆู„ِ ุจุงุณู… ِ ุงู„ู„ู‡ Min Awwali Bismillah dimulai dengan “Bismillah…” ู„ู„ุฎุชู… ูˆู„ู„ุฑุถูˆุงู† Lil Khotmil Wa Lirridwan

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

REVIEW BUKU



Judul : Nostalgia Biru
Penulis : Heru Sang Amurwabhumi, Vinny Martina, Wiwid Nurwidayati, Tita Dewi Utara, Dyah Yuukita, Nuha, Winda Astuti, Nazlah Hasni, Mabruroh Qosim, Hikmah Ali, Ane Fariz, Cenung Hasanah
Penerbit: Embrio Publisher
Genre: Fiksi, Antologi
Tahun Terbit: 2018
Tebal: 176 hlm. 14 x 20 cm

Membaca judulnya dari kata pertama, NOSTALGIA; otomatis mengantarkan kita pada segudang kenangan. Lantas BIRU; yang mengandung rindu, pertemuan, cinta, sekaligus pilu dan sedih yang mengaduk perasaan, merangkumnya menjadi warna-warni kisah yang bisa diambil hikmahnya. 
Di awal, imajinasi saya dibawa berpetualang dalam deskripsi serta konflik yang apik pada kisah Memoar Kubah Langgar. Jangankan mereka yang mengalami kisah berdarah itu dengan mata kepalanya sendiri, saya yang cukup melihatnya (membaca) lewat kata-kata Mas Heru saja sudah terbawa rasa perih dan ngeri. Tulisan ini luar biasa.
Pada Hikmah, air mata saya dibuat mengambang, mengisi rongga di sudut mata. Bayangan k…