Kabutku

Hadir serupa kabut
Hanya memandang yang kudapat
Adanya tak dapat digenggam
Merapuh dalam diam

Hatiku memang sedang berduka
Kehilangan orang tercinta
Luka menganga harus kututup
Karenanya tetap menikmati hidup

Tunggulah aku disana
Ditelaga bening beriak rendah
Mungkin perjalanan ini masih lama
Jadi..bersabarlah

Engkau yang memperkenalkanku ujung lorong yang terbuka
Engkau pula terang yang mengibaskan harapan


Sekilas senyum penutupmu kembali merayu
Melepas isyarat sedih membelai pipi
Kali itulah terakhir kau undang kembali tetes bening lepas tanpa daya
Jatuh oleh gaya gravitasi
Wahai pembuka
Kau lepas aku yang lemah ditengah ribuan mata belas kasihan
Sedih telah lama kumulai..tapi sekejap bahagia kutuai
Layaknya kabut malam tak tergenggam
Hanya dapat dipandang dalam keheningan


(catatan suatu malam membuka kenangan, kematian itu tak terduga namun dekat ditepi mata)






Postingan populer dari blog ini

Mengenalmu dengan Baik

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

Dia Pernah Ada di Sini