Dinding

Beku merayap pada dinding.
Dinding yang serupa batas.
Pisahkan kau dan aku dari menjadi kita.
Mungkin memang belum saatnya.
Untuk saling melihat, menatap dan bahkan lebih jauh menyentuh

Lama...
Mungkin masih lama menantimu.
Sementara kujalin sahabat dengan jari-jari waktu.

Aku bersabar.
Tuhan pun titahkan demikian.
Menunggu waktu yang niskala.
Berharap batas serupa dinding itu segera lusuh menjadi cerih retak.

Menunggu kamu..
Masih dalam dinding berbatas.
Batas itu waktu.
Dan waktu itu kan menunggu.
Menunggu dinding runtuh.

Bertemu kamu


Pontianak, 22 Oktober 2016
(Masih betah lihat langit dari jendela perpustakaan)

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

Mengenalmu dengan Baik

Tokoh Saya yang Keracunan