Edafon



Perihal sajak, harusnya berhak atas apa saja yang ingin disampaikan, berhak atas semua bayang yang mengejar dan pasrah tergelatak di celah-celah misterius tangan Tuhan, ingin kusematkan bahwa kehidupan ini hanya sekejap mata atau sedikit lebih lama dengan menganggukkan kepala.

Aku mencintaimu, yaa … mencintaimu, sungguh mencintaimu, maka kulakukan ini, membuat gembur tubuhmu, membaliknya, mengaduknya dan kembali kuinjak agar engkau siap menampung benih yang nanti akan mengisi kantung-kantung nyawa anak manusia. 

Tapak-tapak kakiku merangkai kata, menggubah sajak edafon

Tersenyumlah! Akan ada kehidupan. Kita tahu itu, sejak nenek moyang menggerakkan jari-jarinya, sejak itulah kita bersua.

Kamu pun demikian, mencintaiku, sangat mencintaiku, tak ingin memberatkan langkahku, hingga bagaimana caranya kau mudahkan semua, agar segera padi-padi bertumbuh, panen dan kembali kita bertemu. 

Helai-helai ilalang, rumput dan dedaunan liar bertumbuh, sejenak kunikmati karena kamu butuh aku. Meski mesin masa depan lebih gagah terlihat pongah. Aku pasti lebih kamu mau.

Kecipak lumpur kini menyusun nada, di rintik hujan simfoninya sempurna, kita menumpang basah yang mengguyur dan menggenang, suara-suara alam bercumbu dalam dersik angin bertiup. Liriknya sederhana. Cinta.

Dalam purnama kesekian, sawah ditumbuhi padi muda. 

Kita adalah edafon. Lahirkan titik-titik resah menakjubkan yang terletak pada pertemuan, sebab aku telah menjadi sebagian dari nafasmu. Kita bertemu untuk kesempatan bertumbuh. 

^.^

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

Mengenalmu dengan Baik

Tokoh Saya yang Keracunan