Tepi Dermaga


Ingat lamanya waktu kutamatkan. Menemuimu adalah keniscayaan yang mungkin tidak dapat kutukar dengan nyawa, tapi harus kuserahkan. Ikhlaskan.

Ketika kutunggu, berkurang kesabaranku. Lemah tenagaku dan menua rautku.

Hampir seringkali gelombang air laut menyentuh kaki, basah dan dingin. Menikam.

Tentang bagaimana laut yang paham akan asin pada birunya, akupun serupa, paham akan rasa yang membiru dalam detak hidup yang digariskan, menunggu.

Ibarat meteran yang dapat mengukur panjang, aku selalu dapat mengukur pengembaraan fantasiku, tentangmu.

Adalah hati, leluasa menggenggam tangkai hujan, basah. Rindu masih bertiup, menyemai kabut di jurang-jurang angan. Dalam dan gelap.

Rasanya, hanya suaramu saja jarak pemisah menggulung ketiadaan. Diawali tekak yang kering, kamu mulai nyanyikan tembang pengantar malam.

Pastinya, semakin kutunggu, berkurang kesabaranku. Lemah tenagaku dan menua rautku.

Enggan dermaga hati menyimpan luka. Menanti perahu berlayar ke samudera hakikat-Nya. Aminkan saja berlabuh, atau karam di karang tak bertuan.

Namamu sudah kupahat pada epitaf. Agar nanti, ketika lantai dermaga ini lenyap. Masih ada kenangan yang dapat dilihat, disentuh dan mungkin bisa ditangisi.

Akankah ada ruang untukku pada peta jalurmu, wahai suara layar yang merampas desik angin?

Kantong-kantong aksaraku telah kering merapal namamu. Menyisakan cinta dan benci dalam aliran arus laut yang mengitari. Dermaga kini sunyi.

#dibuangsayang

Postingan populer dari blog ini

Mengenalmu dengan Baik

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

Dia Pernah Ada di Sini