Pengantar Tidur


"Pergi? Kemana?"

"Refreshing dulu sama teman-teman."

"Baiklah, hati-hati selama diperjalanan!" Kuputuskan sambungan telpon setelah mendengar dan membalas salam.

Tahukah kamu, ada angin yang berputar-putar, menabrak dinding-dinding rongga dadaku. Sebentuk cemas sedang atraksi disana. Meliuk-liuk hingga sesak nafas ini.

Di luar sana, hujan sedang menari-nari riang. Asik mendendangkan rintiknya bersama angin. Tidak lebat, namun tidak bisa juga disebut sebaliknya. Dingin sudah menjadi satu kesatuan desah. Alirannya beku hingga tidak mampu merangkak menuju muara lega. Muram kini sempurna merayapi tembok-tembok malam.

Tuhan, maafkan aku. Seringkali menyiksa hati ini dengan firasat-firasat yang aneh. Meski sebagian besar itu benar, aku takut setan menjadikannya tunggangan terbaik untuk menggodaku.

Tuhan, apapun itu, tolong jaga dia.

Kututup malamku dengan doa, sebentuk permintaan yang kutujukan untuk seseorang yang padanya kusimpan sebagian jiwaku, sebagian hatiku dan tentu saja sebagian dariku.

-Tamat-

Postingan populer dari blog ini

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru

Mengenalmu dengan Baik

Tokoh Saya yang Keracunan