Lupa

Menerima lupa.
Biasanya kita sering mendengar kalimat melawan lupa. Tapi tidak bagiku, aku lebih memilih kata menerima daripada melawan. Hanya lelah yang akan di dapat jika mati-matian melawan penyakit tersebut.

Pikirku jika kita menerima kealpaan itu, mungkin akan membantu melapangkan dada saat menghadapi hal yang tidak menyenangkan karena lupa tadi.

Sabar pada akhirnya..begitulah pikirku.
Kealpaan yang sering terjadi padaku adalah lupa dengan seseorang yang wajahnya menunjukkan keakraban padaku, dan sebaliknya aku dengan kening berkerut berusaha mengingat siapa dia.

Kembali menerima lupa..kusampaikan kata pamungkas "maaf..siapa ya?"

Malu, itu pasti, tapi bagaimana lagi..jika memori itu pergi tak kembali mengapa harus bersusah payah mencari yang telah pergi. Terima saja dan perbaiki.

Menerima lupa..lakukan saja.

Postingan populer dari blog ini

Mengenalmu dengan Baik

Lagu Yang Menyentuh Hati

Review Buku Antologi - Nostalgia Biru