Langsung ke konten utama

Aku Dan Mereka


Denting suara piano menghipnotis penonton. Mereka tersihir, asyik menikmati setiap nada yang dimainkan oleh sang pianis. Terasa menyayat hati kala bernada sedih namun di lain waktu sayatan itu terobati ketika nada-nada riang menyapa gendang telinga.

Tepuk tangan lahir dari para penonton saat permainan sang pianis berakhir. Pemuda itu kemudian berdiri, membungkukkan badannya sedikit untuk memberi hormat sekaligus ungkapan terimakasihnya pada mereka yang telah setia mendengarkan dan menikmati permainan jarinya selama kurang lebih satu jam.

“Elang …, kau tampak hebat sekali tadi!” puji sang manajer.

“Terimakasih …, setelah ini aku bisa segera pulang, bukan?”

“Tentu saja, kenapa tidak. Apa kau membawa kendaraan atau ingin diantar pulang?

“Aku bawa kendaraan. Sampai jumpa besok, Mas.”

Elang menuju lapangan parkir. Lampu-lampu jalan tidak seluruhnya menyala, beberapa padam. Mobil Elang tepat berada pada posisi area parkir yang gelap. Segera ia masuk ke dalam mobil dan kemudian meninggalkan gedung kesenian.

River Flows In You – Yiruma mengalun, salah satu lagu dari pianis yang sangat Elang idolakan itu menjadi penawar lelahnya saat ini. Tiba di persimpangan, tak jauh dari tempat tinggalnya, mobil pemuda itu menabrak seseorang. Ia lantas menghentikan kendaraan dan keluar untuk memeriksa keadaan korban. Seorang gadis dengan pakaian tidur berjalan di tengah jalan yang sepi.

“Ah ... bikin repot saja.” gerutunya sambil menggendong gadis itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Elang terpaksa memutar kembali mobilnya menuju jalan utama. Mencari klinik atau rumah sakit terdekat untuk memberikan pertolongan pada gadis itu, korbannya.

Dua puluh menit berjalan, akhirnya Elang menemukan rumah sakit. Di saat yang sama gadis yang ditidurkan di jok belakang itu juga terbangun dan tiba-tiba berteriak.

“Penculik …, tolooong!!” Sontak saja Elang kaget mendengar teriakan gadis itu.

“Hei … hei!! Apa-apaan kamu, bukannya terimakasih, malah menuduh yang bukan-bukan. Lihat aku! Apa tampangku yang cakep ini kelihatan seperti penculik? Dan lihat, penculik seperti apa sih yang mau menculik korbannya yang tidak punya selera berpakaian sepertimu!” hardik Elang dengan suara nyaringnya sambil menunjuk baju tidur yang dikenakan gadis itu.

Mendengar kalimat yang keluar dari mulut pemuda dihadapannya, gadis itu lantas menangis sejadi-jadinya.

“Hei … hei, aduuh ... kenapa jadi menangis, sih. Bikin pusing saja.” Gerutu Elang kemudian. "Ok … begini saja, kita cari tempat makan, atau bagaimana kalau kamu kuantar pulang sekalian?” tawarnya pada gadis itu.

“Makan..? aku mau makan!” pintanya dengan suara rengekan seperti anak kecil yang kelaparan.

“Baiklah, nona. Aku akan mengantarmu mencari makanan. Jadi, apa yang kau inginkan?”

“Coklat, ice cream, biscuit juga boleh.”

“Hah …?” Elang heran tapi sejurus kemudian menuruti keinginan gadis itu.

Elang tidak habis pikir, melihat gadis manis di depannya yang berprilaku seperti anak kecil usia balita. Semua yang dipintanya tadi kini habis tak bersisa. Elang hanya mampu menelan ludah melihat semua itu. keheranannya sudah sampai di level tertinggi.

“Sekarang katakan, dimana rumahmu? Mari kuantar kau pulang!” tanya Elang saat gadis itu selesai menjilati jari-jari tangannya.

“Aku tidak mau pulang, aku mau ikut kakak saja.” rengeknya lagi dengan suara yang tinggi dan hampir menangis.

“Ehh … aduh, gawat nih. Baiklah ... baik. Kau boleh ikut aku pulang.” Elang pasrah. Mimpi apa aku semalam, kenapa jadi begini? Batinnya.

***

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Topeng (bag.6)

-Topeng Ambisi- Seorang laki-laki tergesa-gesa memasuki ruangannya, setengah berlari Ia menghampiri meja kerja dan dengan kasar menarik satu persatu laci-laci yang tersusun rapi pada bagian bawah meja, kemudian mengobrak-abrik isinya. Ketika yang dicari belum ditemukan, Ia beralih pada lemari yang berada di belakangnya. Hal yang sama dilakukan, Ia pun mengacak habis isi lemari untuk mencari sesuatu yang amat berharga baginya.  "Dimana dokumen itu..kurang ajar!" Makinya pada seseorang yang ada dalam pikirannya. "Baiklah..jika ini pilihannya, akan kuturuti permainannya" Desisnya dengan rasa kesal yang tertahan. Ia tahu, wanita itu tak main-main dengan ancamannya tadi siang. Ambisinya yang terlalu besar dan menggebu-gebu secara otomatis memutuskan hubungan Simbiolis Mutualisme yang selama ini telah mereka jalin sejak setahun terakhir.  Jika bukan karena Mita yang dengan sembunyi-sembunyi memberitahukan padanya bahwa dokumen penting itu telah...

Topeng (bag.5)

-Dugaan- Dua foto wanita cantik terpajang di dinding ruangan. masing-masing dilengkapi dengan data yang dibutuhkan para penyidik untuk memecahkan kasus pembunuhan yang sedang ditangani. "Diperkirakan pembunuhnya adalah seorang pria muda" Inspektur Bobby membuka suara. "Walaupun tak ada tanda-tanda kekerasan seksual." Sambungnya lagi. "Dilihat dari tempat kejadian, tidak ada tanda-tanda perlawanan dari korban dan sepertinya ini sudah direncanakan." Rudi ikut berkomentar. Inspektur Bobby mengamati lekat-lekat data para korban yang ada ditangannya. Merusak wajah korban setelah kematian, menunjukkan adanya masalah mental yang serius pada pelaku. Begitulah kondisi kedua korban saat ditemukan. Wajahnya disayat seperti hendak membalaskan dendam. Entah apa sebenarnya motif dari pembunuhan ini. Yang jelas kedua korban adalah teman dekat dan juga bekerja di tempat yang sama. "Aku pikir pelaku pembunuhan dari kedua korban ini adalah ...

Topeng (bag.10)

- Somnambulisme 2 - Maximilian Pirner-La Somnambule. Huile sur toile. 1878 Baca kisah sebelumnya disini Udara malam itu terasa panas, kipas angin tak banyak membantu meredakan gerah yang dirasakan penghuni kost kamar nomor I. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh penghuni kost lainnya, namun mereka cukup bersabar menerima kenyataan yang ada atau bahkan bisa mengatasi rasa gerah malam itu dengan cara masing-masing. Sasa penghuni kamar nomor I membuka jendalanya lebar-lebar, berharap angin diluar sana bisa masuk dengan leluasa. Namun sepertinya itu tak banyak membantu. Dengan tingkah sedikit konyol, Sasa meletakkan kepalanya di luar jendela sedangkan tubuhnya masih berada didalam kamar. Posisi tempat tidurnya yang menempel dengan bingkai jendela memang memungkinkan Ia melakukan itu. Syukurlah tak ada penghuni  kost  kamar lain yang keluar dan melihatnya. Kalau saja ada, kemungkinan mereka akan mengira bahwa Sasa adalah pencuri yang berusaha keluar dari je...