Langsung ke konten utama

PANASEA

gbr: Lisza21.Wordpress.com


Kau benar-benar membuatku mabuk. Antara sadar dan tidak aku mengikuti jejak-jejak samar. Mencarimu.

Firasatku, sebentar lagi akan sampai. Di depan sana, ada jurang dengan selimut kabut tebal. Katanya jurang itu tidak berdasar. Jika jatuh, maka jatuhlah dalam damai.

Disana, aku memilih dan mencari posisi di tepi bibirnya, memungut puing-puing nafas.

Pada hidup, ada lelah, lesu luar biasa, bahkan putus asa. Kususun menumpuk hingga tercipta satu kastil megah.

Kutatap langit lekat-lekat. Mencari kamu yang beribu detik aku rindu.

Pintu langit kuketuk. Tak ada jawaban, seketika kabut menjadi gelap, angin kencang, diatas sana raksasa mengambang, hitam, diiringi kilatan api dan gelegar batuknya yang garang.

Hujan datang, tombak-tombak runcingnya kusesap menjadi tangis tak terlihat. Lalu kupinjam selendang kilat, mencambuknya sekali ayun hingga runtuh kastil megah yang kusebut lara.

Benarlah kata orang, hadirmu dapat menghapus jejak keresahan, kerinduan, sekaligus penawar racun kenangan.

Puas kujalin kebersamaan dalam rinai hujan. Saatnya pulang, tapi kaki ini hanya diam. Bujuknya merayuku masuk ke jurang. Menjemput kedamaian.


----------
Panasea : Obat untuk semua penyakit atau kesulitan.

#MU6

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Topeng (bag.6)

-Topeng Ambisi- Seorang laki-laki tergesa-gesa memasuki ruangannya, setengah berlari Ia menghampiri meja kerja dan dengan kasar menarik satu persatu laci-laci yang tersusun rapi pada bagian bawah meja, kemudian mengobrak-abrik isinya. Ketika yang dicari belum ditemukan, Ia beralih pada lemari yang berada di belakangnya. Hal yang sama dilakukan, Ia pun mengacak habis isi lemari untuk mencari sesuatu yang amat berharga baginya.  "Dimana dokumen itu..kurang ajar!" Makinya pada seseorang yang ada dalam pikirannya. "Baiklah..jika ini pilihannya, akan kuturuti permainannya" Desisnya dengan rasa kesal yang tertahan. Ia tahu, wanita itu tak main-main dengan ancamannya tadi siang. Ambisinya yang terlalu besar dan menggebu-gebu secara otomatis memutuskan hubungan Simbiolis Mutualisme yang selama ini telah mereka jalin sejak setahun terakhir.  Jika bukan karena Mita yang dengan sembunyi-sembunyi memberitahukan padanya bahwa dokumen penting itu telah...

Topeng (bag.5)

-Dugaan- Dua foto wanita cantik terpajang di dinding ruangan. masing-masing dilengkapi dengan data yang dibutuhkan para penyidik untuk memecahkan kasus pembunuhan yang sedang ditangani. "Diperkirakan pembunuhnya adalah seorang pria muda" Inspektur Bobby membuka suara. "Walaupun tak ada tanda-tanda kekerasan seksual." Sambungnya lagi. "Dilihat dari tempat kejadian, tidak ada tanda-tanda perlawanan dari korban dan sepertinya ini sudah direncanakan." Rudi ikut berkomentar. Inspektur Bobby mengamati lekat-lekat data para korban yang ada ditangannya. Merusak wajah korban setelah kematian, menunjukkan adanya masalah mental yang serius pada pelaku. Begitulah kondisi kedua korban saat ditemukan. Wajahnya disayat seperti hendak membalaskan dendam. Entah apa sebenarnya motif dari pembunuhan ini. Yang jelas kedua korban adalah teman dekat dan juga bekerja di tempat yang sama. "Aku pikir pelaku pembunuhan dari kedua korban ini adalah ...

Topeng (bag.7)

-Menemukan Kasih- Dimas baru menyelesaikan pekerjaannya. Walau jam makan siang telah tiba, Ia enggan keluar dari ruang kerja. Selera makannya hilang sejak kekacauan itu menimpa perusahaan. Duduk dan berdiam diri lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu diluar ruangan. Pintu kantornya diketuk, Dimas mempersilahkan masuk. "Dimas..bagaimana kabarmu?" Sapa tamu itu akrab. "Ooh..Anton, Silahkan duduk." Dimas menyambut tamu yang ternyata adalah teman baiknya, dengan wajah senang. "Aku baik-baik saja, tapi seperti yang kau ketahui, perusahaan ini dilanda hal yang tidak menyenangkan."Sambungnya lagi. "Turut prihatin atas musibah yang menimpa bawahanmu. Maaf aku  tidak ada disini untuk membantu saat itu." Anton bersimpati pada temannya. Istirahat siang itu dihabiskan dengan pembicaraan seputar kasus pembunuhan yang menimpa karyawan perusahaan. Sebenarnya Dimas malas membahas hal itu lagi, tapi demi menghargai teman bai...