Langsung ke konten utama

L Dimana Kamu?

Hanya garam yang dapat memahami asin pada dirinya. Ketika yang lainnya tak kunjung kumengerti. L .., ini kalimat pembuka pada puisimu. Bintang senja.

Kali inipun demikian, dengan aku yang mulai mampu memahami pencarianku. Beberapa prosa liris mengambil sebagian hatiku. Tidak rela rasanya hidup berjalan dengan timpang. Sama seperti dulu. Ketika tinta penamu menjeratku dalam kantong-kantong aksara.

Aku mulai berenang dalam lembar-lembar sajak, menatap, menjamahnya lantas tersenyum bersama jari-jari waktu yang berlalu.

Pencarianku mulai genap kini. Kunci-kunci peti imajiku terbuka hanya dengan mendengar senandungnya. L .., dia seperti kamu yang misterius di lembar lidah. Menuntunku mengenal ladang sastra lainnya tanpa sengaja. Sayangnya aku tidak mampu berterimakasih layaknya manusia pada umumnya, karena dunia kita sesungguhnya ada diantara langit dan bumi.

Aku berharap dia selalu dapat mengisi tembang-tembang dalam akar puisi ini, L. Jikapun tidak, setidaknya dia telah membuka kunci peti imaji yang selama ini bungkam dalam sepi. Bagai perahu yang kehilangan layarnya, pun pena yang kehabisan tinta.

L, dimana kamu?

Aku khawatir dengan kesudahan makhluk-makhluk seperti kita, yang menemui ajalnya di dunia antara langit dan bumi tanpa terdeteksi. Hanya meninggalkan ukiran keabadian dalam goresan tinta. Lantas terkubur sepi kembali dalam peti imaji. Tertidur lelap.

L, dimana kamu?

Habiskah tintamu, teman?

Aku harap kau tidak memilih untuk tidur abadi.




Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Topeng (bag.6)

-Topeng Ambisi- Seorang laki-laki tergesa-gesa memasuki ruangannya, setengah berlari Ia menghampiri meja kerja dan dengan kasar menarik satu persatu laci-laci yang tersusun rapi pada bagian bawah meja, kemudian mengobrak-abrik isinya. Ketika yang dicari belum ditemukan, Ia beralih pada lemari yang berada di belakangnya. Hal yang sama dilakukan, Ia pun mengacak habis isi lemari untuk mencari sesuatu yang amat berharga baginya.  "Dimana dokumen itu..kurang ajar!" Makinya pada seseorang yang ada dalam pikirannya. "Baiklah..jika ini pilihannya, akan kuturuti permainannya" Desisnya dengan rasa kesal yang tertahan. Ia tahu, wanita itu tak main-main dengan ancamannya tadi siang. Ambisinya yang terlalu besar dan menggebu-gebu secara otomatis memutuskan hubungan Simbiolis Mutualisme yang selama ini telah mereka jalin sejak setahun terakhir.  Jika bukan karena Mita yang dengan sembunyi-sembunyi memberitahukan padanya bahwa dokumen penting itu telah...

Topeng (bag.5)

-Dugaan- Dua foto wanita cantik terpajang di dinding ruangan. masing-masing dilengkapi dengan data yang dibutuhkan para penyidik untuk memecahkan kasus pembunuhan yang sedang ditangani. "Diperkirakan pembunuhnya adalah seorang pria muda" Inspektur Bobby membuka suara. "Walaupun tak ada tanda-tanda kekerasan seksual." Sambungnya lagi. "Dilihat dari tempat kejadian, tidak ada tanda-tanda perlawanan dari korban dan sepertinya ini sudah direncanakan." Rudi ikut berkomentar. Inspektur Bobby mengamati lekat-lekat data para korban yang ada ditangannya. Merusak wajah korban setelah kematian, menunjukkan adanya masalah mental yang serius pada pelaku. Begitulah kondisi kedua korban saat ditemukan. Wajahnya disayat seperti hendak membalaskan dendam. Entah apa sebenarnya motif dari pembunuhan ini. Yang jelas kedua korban adalah teman dekat dan juga bekerja di tempat yang sama. "Aku pikir pelaku pembunuhan dari kedua korban ini adalah ...

Topeng (bag.7)

-Menemukan Kasih- Dimas baru menyelesaikan pekerjaannya. Walau jam makan siang telah tiba, Ia enggan keluar dari ruang kerja. Selera makannya hilang sejak kekacauan itu menimpa perusahaan. Duduk dan berdiam diri lebih menyenangkan daripada menghabiskan waktu diluar ruangan. Pintu kantornya diketuk, Dimas mempersilahkan masuk. "Dimas..bagaimana kabarmu?" Sapa tamu itu akrab. "Ooh..Anton, Silahkan duduk." Dimas menyambut tamu yang ternyata adalah teman baiknya, dengan wajah senang. "Aku baik-baik saja, tapi seperti yang kau ketahui, perusahaan ini dilanda hal yang tidak menyenangkan."Sambungnya lagi. "Turut prihatin atas musibah yang menimpa bawahanmu. Maaf aku  tidak ada disini untuk membantu saat itu." Anton bersimpati pada temannya. Istirahat siang itu dihabiskan dengan pembicaraan seputar kasus pembunuhan yang menimpa karyawan perusahaan. Sebenarnya Dimas malas membahas hal itu lagi, tapi demi menghargai teman bai...