Langsung ke konten utama

Postingan

Pias Rasa

Aku putus asa, benar-benar putus asa. Terlalu lelah mencari, tapi belum dapat kutemukan yang kucari.  Dalam kehilangan. Pada lidah hari yang terang, cahayanya tidak cukup menjadi petunjuk jalan. Pada selimut malam yang gelap, tuan yang duduk di singgasana keperakan tidak akan senang menikmati gemerlapnya bintang gemintang. Begitu dahsyat rasa kehilangan.  Nafasku tersengal-sengal. Aku berlari bagai binatang dalam bayang-bayang lebatnya rimba raya, hampir gila sebab resah dengan wanginya kematian mengincarku. Tidak ada setitikpun lega, pias rasa. Dara bangun dengan suara tertahan di tenggorokan. Kantuknya seketika hilang saat tangan-tangan gempal meremas bagian atas tubuhnya yang terbuka. Ia enggan menanggapi hasrat dari pemilik tangan itu. Matanya sibuk membaca jari-jari waktu yang menempel di dinding tepat bagian atas pintu kamar, dalam cahaya remang yang nyaris gelap seperti itu, tentu saja tidak mudah mengetahui jarum jam menunjuk pukul berapa.  ...

Berantai Ingin

Detak-detak hujan dini hari gugur Membentur atap mencipta bising Sadarku terbit selepas mimpi Sesak dikepung berantai ingin Dengarkan! Aku ingin membuatmu jatuh cinta padaku setiap hari; Seperti paru-paru yang paham mengapa harus bernafas Aku ingin memelukmu tanpa jeda; Mengajakmu mengeja tiap-tiap bait rindu Menggenggam niat baik mengukir hari, menunggu nanti Lantas, bersamamu mengecup bibir gelas ikatan Aku ingin menjadi napasmu; Sebab helaan lembut adalah ingatan yang akan menghapus lupamu Sedang pada dadaku tersimpan senyum, pengganti paru-paru yang telah kau ambil setengah Maka terulanglah memori sebelum kita menjadi kita Lagi, Aku ingin berjalan bersamamu; Menapak hari yang kian basah oleh keringat Matahari kadang terlalu garang menguji langkah kita, bukan? Ahh ... Sedari tadi aku terus berkicau Padahal kau masih mengeja bait-bait rinduku yang tumpah Maaf, telah membuatmu kepayahan Saat ini, aku hanya ingin kau jadi pelupa Lupa jika aku riuh, tenga...

Haya

Menjadi bisa karena dilatih untuk bisa. Dilatih bisa dengan berpikir bisa. Berpikir bisa sebab potensi kita untuk bisa. Kita bisa, yakin bisa dan pasti bisa. Tentu atas izin-Nya.  Kalimat motivasi ini Yasa resapi dengan baik. Hasil dari rangkuman lintasan pikiran yang iseng-iseng ditulisnya dengan tangan kiri, tangan yang selama ini jarang sekali diajak ikut serta untuk bekerjasama mengabadikan kata-kata yang terlintas di kepalanya.  Mengingat motivasi, ada salah satu kenangan yang sangat berkesan di hati Yasa. Seorang sahabat yang Tuhan jadikan salah satu cara mengalirkan hidayah -Nya untuk Yasa mengenal diri lebih baik lagi.  Yasa tidak pernah tahu jika binatang yang disukai bisa menjadi bahan untuk mengenal kepribadian seseorang. Maka dengan rasa ingin tahu yang besar ia memberikan tiga nama binatang yang disukainya--pada seorang sahabat, beserta alasan mengapa binatang-binatang itu dipilih walau sebenarnya tidak semua binatang itu ia pelihara.  ...

Somnolent Detecment - 2

"Pagi cantik, ayo bangun! Sekarang sudah jam 4.30, sebentar lagi azan subuh akan terdengar." Ayah menepuk lembut pipi Sarah. Menarik selimut yang menutupi tubuh mungil itu ke arah bawah, menyisakan sedikit bagian selimut menutupi kaki putrinya agar udara dingin bisa dirasakan. Jendela kamar kemudian dibukanya satu persatu, Ayah berniat sekali membuat putrinya bangun lebih awal dengan bantuan angin yang perlahan berhembus masuk ke dalam ruang kamar. "Sebentar lagi, Yah. Sarah masih ngantuk, lima belas menit saja." tangan Sarah menggapai ujung selimut yang masih menutupi kaki. "Lima menit, Ayah tunggu di ruang sholat!" usai mematikan lampu tidur, Ayah keluar dari kamar, menutup pintunya perlahan. Meninggalkan Sarah dengan lima menit jatah sisa kantuknya. Hei, kamu masih mengantuk, bukan? Mau bergabung dengan kami? Mari ke tempat kami, disana sangat menyenangkan. Kamu bisa tidur sepuasnya, itu pun jika kamu mau.  Ya, aku masih mengantuk. Aku ing...

Somnolent Detecment *)

Aku ketakutan, tubuhku bergetar halus sebab menahan rasa takut itu.  Kamu ketakutan, lihatlah, tubuhmu tampak bergetar, apakah kamu menahan rasa takut itu mati-matian? Katakan! Katakan!  Sudah cukup! Dia ketakutan, jangan lagi mengganggunya! Lihat! Tubuhnya bergetar menahan rasa takut itu mati-matian. Pergilah kalian dan jangan ganggu dia!  "Pergi.. Pergi! Pergiii...!" teriak Sarah sembari memukul-mukul kasur empuknya dengan tangan. Wajahnya tampak pucat. Bulir-bulir keringat memenuhi keningnya yang berlipat. Ada kecemasan yang membungkusnya dengan sangat erat.  "Sarah.. Sarah..., bangun nak! Bangun!" ayah mengguncang tubuh Sarah perlahan. Menyalakan lampu tidur di samping ranjang kemudian duduk tepat di sisi tubuh Sarah yang basah oleh keringatnya sendiri.  "Ayah.., ayah." seketika Sarah melompat memeluk tubuh lelaki paruh baya yang telah berbaik hati membesarkannya. Lelaki yang memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah kekasihn...

Mari Bicara Tentang Kematian

Di sisi jalan terhampar rumput liar, embun-embun satu dua terlihat masih setia bergelayut manja ditimpa sinar matahari. Tiga ekor burung gereja sedang bercanda. Terbang rendah, berputar dan sesekali menabrak temannya hingga bergulung-gulung di atas tanah. Sesaat kemudian kembali terbang sedikit lebih tinggi, masih dengan candaan yang mereka nikmati bersama.  Keceriaan mereka tampak renyah hingga sedetik kemudian berubah duka. Satu dari tiga ekor burung gereja yang menghindari patukan canda salah satu temannya tergilas motor yang melaju. Mati.  Duhai, bagaimanalah? Ini terlalu tiba-tiba, tanpa bisa diduga seperti apa akhirnya.  Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "hal yang paling misterius di dunia ini adalah kematian." Bicara tentang mati maka kita akan mempelajari sisi gelap, kenapa disebut gelap? Karena tidak ada yang pernah tahu kapan masa hidupnya habis dan kapan tepatnya kematian menjemput. Maka bicara tentang mati, yang dapat dilakukan adalah mem...

Perhatikan!

Perhatikan! Ada yang ingin aku sampaikan. Jangan sibuk sendiri! Karena rindu ini sudah menjadi pekerjaan paling sibuk. Datang tiba-tiba saat aku sedang menikmati Mentari yang merayap semakin tinggi. Menggangguku kala jari-jari asyik menari di atas kertas. Dan sekarang, lihat! Rindu membuat tubuhku gigil kala senja perlahan jatuh. Dengarkan! Ada yang ingin aku sampaikan. Lihat kantung mataku! Penuh dengan beribu-ribu rindu Beranak-pinak Semalam, baru saja selesai kutampung Dalam perjalanan menuju hatimu Kamu tahu? Itu adalah tempat ziarah dengan jarak paling jauh Lihatlah! Hujan malah menawanku Nakal menghanyutkan rindu yang susah payah kutampung Aku basah, Mengigil sebelum tiba dihatimu Sungguh, Tidak beruntungnya aku. #puisi rindu untuk meong #sabar ya meong