Langsung ke konten utama

Postingan

Haya

Menjadi bisa karena dilatih untuk bisa. Dilatih bisa dengan berpikir bisa. Berpikir bisa sebab potensi kita untuk bisa. Kita bisa, yakin bisa dan pasti bisa. Tentu atas izin-Nya.  Kalimat motivasi ini Yasa resapi dengan baik. Hasil dari rangkuman lintasan pikiran yang iseng-iseng ditulisnya dengan tangan kiri, tangan yang selama ini jarang sekali diajak ikut serta untuk bekerjasama mengabadikan kata-kata yang terlintas di kepalanya.  Mengingat motivasi, ada salah satu kenangan yang sangat berkesan di hati Yasa. Seorang sahabat yang Tuhan jadikan salah satu cara mengalirkan hidayah -Nya untuk Yasa mengenal diri lebih baik lagi.  Yasa tidak pernah tahu jika binatang yang disukai bisa menjadi bahan untuk mengenal kepribadian seseorang. Maka dengan rasa ingin tahu yang besar ia memberikan tiga nama binatang yang disukainya--pada seorang sahabat, beserta alasan mengapa binatang-binatang itu dipilih walau sebenarnya tidak semua binatang itu ia pelihara.  ...

Somnolent Detecment - 2

"Pagi cantik, ayo bangun! Sekarang sudah jam 4.30, sebentar lagi azan subuh akan terdengar." Ayah menepuk lembut pipi Sarah. Menarik selimut yang menutupi tubuh mungil itu ke arah bawah, menyisakan sedikit bagian selimut menutupi kaki putrinya agar udara dingin bisa dirasakan. Jendela kamar kemudian dibukanya satu persatu, Ayah berniat sekali membuat putrinya bangun lebih awal dengan bantuan angin yang perlahan berhembus masuk ke dalam ruang kamar. "Sebentar lagi, Yah. Sarah masih ngantuk, lima belas menit saja." tangan Sarah menggapai ujung selimut yang masih menutupi kaki. "Lima menit, Ayah tunggu di ruang sholat!" usai mematikan lampu tidur, Ayah keluar dari kamar, menutup pintunya perlahan. Meninggalkan Sarah dengan lima menit jatah sisa kantuknya. Hei, kamu masih mengantuk, bukan? Mau bergabung dengan kami? Mari ke tempat kami, disana sangat menyenangkan. Kamu bisa tidur sepuasnya, itu pun jika kamu mau.  Ya, aku masih mengantuk. Aku ing...

Somnolent Detecment *)

Aku ketakutan, tubuhku bergetar halus sebab menahan rasa takut itu.  Kamu ketakutan, lihatlah, tubuhmu tampak bergetar, apakah kamu menahan rasa takut itu mati-matian? Katakan! Katakan!  Sudah cukup! Dia ketakutan, jangan lagi mengganggunya! Lihat! Tubuhnya bergetar menahan rasa takut itu mati-matian. Pergilah kalian dan jangan ganggu dia!  "Pergi.. Pergi! Pergiii...!" teriak Sarah sembari memukul-mukul kasur empuknya dengan tangan. Wajahnya tampak pucat. Bulir-bulir keringat memenuhi keningnya yang berlipat. Ada kecemasan yang membungkusnya dengan sangat erat.  "Sarah.. Sarah..., bangun nak! Bangun!" ayah mengguncang tubuh Sarah perlahan. Menyalakan lampu tidur di samping ranjang kemudian duduk tepat di sisi tubuh Sarah yang basah oleh keringatnya sendiri.  "Ayah.., ayah." seketika Sarah melompat memeluk tubuh lelaki paruh baya yang telah berbaik hati membesarkannya. Lelaki yang memutuskan untuk tidak menikah lagi setelah kekasihn...

Mari Bicara Tentang Kematian

Di sisi jalan terhampar rumput liar, embun-embun satu dua terlihat masih setia bergelayut manja ditimpa sinar matahari. Tiga ekor burung gereja sedang bercanda. Terbang rendah, berputar dan sesekali menabrak temannya hingga bergulung-gulung di atas tanah. Sesaat kemudian kembali terbang sedikit lebih tinggi, masih dengan candaan yang mereka nikmati bersama.  Keceriaan mereka tampak renyah hingga sedetik kemudian berubah duka. Satu dari tiga ekor burung gereja yang menghindari patukan canda salah satu temannya tergilas motor yang melaju. Mati.  Duhai, bagaimanalah? Ini terlalu tiba-tiba, tanpa bisa diduga seperti apa akhirnya.  Ali bin Abi Thalib pernah berkata, "hal yang paling misterius di dunia ini adalah kematian." Bicara tentang mati maka kita akan mempelajari sisi gelap, kenapa disebut gelap? Karena tidak ada yang pernah tahu kapan masa hidupnya habis dan kapan tepatnya kematian menjemput. Maka bicara tentang mati, yang dapat dilakukan adalah mem...

Perhatikan!

Perhatikan! Ada yang ingin aku sampaikan. Jangan sibuk sendiri! Karena rindu ini sudah menjadi pekerjaan paling sibuk. Datang tiba-tiba saat aku sedang menikmati Mentari yang merayap semakin tinggi. Menggangguku kala jari-jari asyik menari di atas kertas. Dan sekarang, lihat! Rindu membuat tubuhku gigil kala senja perlahan jatuh. Dengarkan! Ada yang ingin aku sampaikan. Lihat kantung mataku! Penuh dengan beribu-ribu rindu Beranak-pinak Semalam, baru saja selesai kutampung Dalam perjalanan menuju hatimu Kamu tahu? Itu adalah tempat ziarah dengan jarak paling jauh Lihatlah! Hujan malah menawanku Nakal menghanyutkan rindu yang susah payah kutampung Aku basah, Mengigil sebelum tiba dihatimu Sungguh, Tidak beruntungnya aku. #puisi rindu untuk meong #sabar ya meong

Kibar Kabar Guru - Mengenangmu

Fajar belum lagi sempurna, langitnya masih akan berpendar. Biru pada biru yang perlahan memudar. Sujud-sujud akhir telah purna dalam damai. Mengukir epitaf amal-amal. Janjikan keindahan setelahnya.  Untuknya, tubuh tua yang dengan sekuat tenaga meredakan perih pada luka-luka menganga, gelisah disapu debu pekat yang kian kelabu. Mengaduh pada dinginnya puing-puing dinding langit fajar yang hendak berpendar. Mencari sedikit kenyamanan yang semakin sulit, lalu kesempatan hidup yang sempit.  Simak!  Embun-embun dalam ayut- nya malam enggan bertahan pada tangkai-tangkai perdu. Beningnya luruh bersama sayap-sayap malaikat. Lantas, melangitlah doa-doa serupa iring-iringan pengantin, menghantarkan ruh suci menghadap Kekasih. Yang padanya, cahaya wajah bagai candu. Dirindu. Ingatlah!  Sebongkah dendam membara telah menikam perjuangan. Merampas sang hamba bersahaja. Meski raganya tidak mampu menopang, semangatnya kuat menembus langit, menggetarkan dad...

Ingin Yang Memeluk

Aku beri nama rindu . Pertumbuhannya begitu cepat, bahkan jika kupangkas berkali-kali. Satu-satunya cara yang dapat dilakukan hanya membiarkannya begitu saja. Ini memang sebuah pilihan dalam bentuk paling pasrah, bahkan teramat sangat pasrah. Mungkin, cara lain untuk mengatasinya adalah dengan menggila, ketika sedang membunuh waktu. Terjebak dalam kesibukan yang lelah, hingga tulang-tulang tidak lagi mampu menopang tubuh, lalu jatuh terkulai dalam lelap yang damai. Aku beri nama rindu. Sebuah rasa yang sejujurnya menyiksa. Menoreh perih kulit sampai ke jantung, kemudian dengan leluasanya perih itu merambat menembus hati,  hingga bernafas pun tidak lagi nikmat, lalu bergerak pun seakan penat. Aku kehilangan kata-kata. Tekakku sudah kering berhari-hari. Mencuri sadar dalam bimbang. Pikiran-pikiran yang tertawan. Masih tepekur memandang langit-langit malam. Sepintas lupa, bagaimana cara memejamkan mata. Pada taburan cahaya aku terpaku, tersesat tanpa tahu kemana a...