Langsung ke konten utama

Tanpa Dasar Cinta (2)




Aku hanya perlu membawa diri, tepatnya pandai-pandai membawa diri. Menuruti apa yang dikatakan orangtua suamiku karena mereka adalah orangtuaku sekarang. Ya Tuhan, kuatkan aku.


Mobil mewah yang menjemputku terparkir rapi di halaman rumah. Aku selesai merapikan tas koper yang berisi sebagian pakaianku. Terus terang aku masih enggan untuk pindah ke rumah mertua, sebagian isi lemariku masih tertata rapi di kamar, berharap aku akan kembali tinggal disini lebih lama lagi.


"Haura, kamu sudah siap?" Ibu memastikan barang-barangku sudah siap.


"Sudah Bu." jawabku singkat tanpa basa-basi.


Supir yang sedari tadi menunggu di ruang tamu segera membawa dua tas koper sekaligus. Ayah membantu membawakan kotak berisi buku-buku pelajaran. Aku mengikuti langkah ayah dari belakang sambil tertunduk lesu.


"Wajahmu, Haura!" tegur ayah saat berbalik dan menemukanku dengan wajah sendu.


"Kenapa?"


"Jangan cemberut begitu, nanti kamu cepat tua." Aku tahu ayah berusaha menghiburku. Tapi, aku sama sekali tidak berselera kali ini.


"Apaan sih, Ayah. Haura sedih, nih." Ayah memelukku erat. Ingin sekali aku menangis sejadi-jadinya jika saja ibu tidak meraih pundakku, membuat pelukanku dengan ayah mengendur.


"Kamu bisa main kesini kapan saja kamu mau, asalkan bersama suami." kalimat ibu barusan membuat mataku enggan basah.


*****


Rumah ini besar sekali. Bahkan terlalu besar jika hanya dihuni oleh empat orang. Ada tiga bagian bangunan yang terlihat mencolok. Bagian utama terletak di tengah dan dua bagian lain membentuk layaknya sayap kanan dan kiri.


Pada bagian utama ada kamar nenek. Beliaulah teman baik kakek saat masih muda. Usianya kini tujuh puluh lima tahun. Jika kakek masih ada, mungkin kakek akan mengantarku ke sini sambil nostalgia dan mungkin akan sibuk menceritakan perjuangannya semasa muda.


"Kamu Haura?" tanya Nenek sambil memegang wajahku, menangkupnya dengan kedua tangan yang sedikit kepayahan diangkat. Sisa stroke tiga tahun yang lalu menjadi penyebabnya. Bahkan kini Nenek dibantu dengan kursi roda.


"Iya, Nek." Aku mengangguk pelan, menatap matanya yang tampak riang. Senang dengan kehadiranku.


"Wajahmu, mirip sekali dengan Arga Atmadja." Nenek menarikku masuk dalam pelukannya. Aku sedikit terhuyung mengikuti gerakan kursi roda yang bergeser kebelakang. Syukurlah ada Genta yang menahannya di bagian belakang, sigap mengunci roda kursi dengan mengangkat tuas kecil di bagian samping roda, sehingga kursi tidak dapat bergerak maju ataupun mundur, "sudah lama sekali, akhirnya..." Nenek tidak melanjutkan kalimatnya. Dengan tangan masih menepuk-nepuk punggungku, Nenek berbisik. "Selamat datang Arga."


Namaku Haura Arganta, mendengar kalimat nenek barusan aku tidak yakin beliau memanggil namaku atau nama kakek. Begitu rindukah nenek dengan kakek? Seperti apa kisah pertemanan keduanya sampai bisa membuat wasiat yang rumit ini?


Ibu Genta yang sekarang juga adalah ibuku mengantar Aku ke kamar, ruang tidur yang akan kutempati sendiri, tentu saja begitu dan ini membuatku lega. Nenek mengatur semuanya. Walau sudah menikah, kami masih pelajar yang harus menyelesaikan pendidikan satu semester lagi.


"Kamu suka kamar ini, Haura?" tanya ibu begitu kami masuk dalam ruangan dengan cat dinding berwarna purple grey. Kesannya mewah dan elegan.


"Iya Bu, suka." Aku tidak pernah mempermasalahkan warna cat dinding kamar di rumahku atau di rumah-rumahku sebelumnya. Karena kami biasanya hanya akan menempatinya dalam waktu tidak kurang dari dua tahun dan tidak lebih dari lima tahun, selalu berpindah-pindah. Jadi kuterima dan nikmati saja. Cukup simple, bukan?


"Di depan kamar siapa, Bu?" Aku menunjuk sebuah kamar yang tepat berada di depan ruang kamarku. Berhadapan dan hanya terpisah ruangan tengah yang dilengkapi taman kecil.


"Itu kamar Genta." jawabnya, kemudian menjelaskan kamar ibu dan ayah ada di sayap kanan, bagian yang akan dijumpai lebih dulu walau tetap saja pintu masuknya ada di bagian utama.


Aku paham sekarang, bangunan sayap kiri akan kami-aku dan genta-tempati. Nenek sebagai orang tertua di bagian bangunan utama, sedangkan ayah dan ibu di bangunan sayap kanan. Pembagian yang adil. Tapi tetap saja aku merasa tidak enak, seharusnya kami berada di sayap berbeda.


Baiklah, selamat datang Haura. Kamu pasti bisa. Aku menyemangati diri. 


Handphoneku berbunyi, nada pesan masuk. Ada dua pesan, satu dari ayah dan satu lagi dari nomor yang tidak kukenal. Kubuka pesan ayah yang memastikan aku baik-baik saja. Aku tahu, ayah juga sedih berpisah dengan Putri semata wayangnya. Pesan kedua kubuka setelah mengirimkan kabar pada ayah. 


Hei, ambil bantalmu di ruang tamu! 
-Genta-


Bantal? Apa tadi aku membawa bantal? Oh...tidak, apa bantal kepala kotak itu terbawa kesini? Waduh, itu kan ada fotonya. 


*****

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Topeng (bag.6)

-Topeng Ambisi- Seorang laki-laki tergesa-gesa memasuki ruangannya, setengah berlari Ia menghampiri meja kerja dan dengan kasar menarik satu persatu laci-laci yang tersusun rapi pada bagian bawah meja, kemudian mengobrak-abrik isinya. Ketika yang dicari belum ditemukan, Ia beralih pada lemari yang berada di belakangnya. Hal yang sama dilakukan, Ia pun mengacak habis isi lemari untuk mencari sesuatu yang amat berharga baginya.  "Dimana dokumen itu..kurang ajar!" Makinya pada seseorang yang ada dalam pikirannya. "Baiklah..jika ini pilihannya, akan kuturuti permainannya" Desisnya dengan rasa kesal yang tertahan. Ia tahu, wanita itu tak main-main dengan ancamannya tadi siang. Ambisinya yang terlalu besar dan menggebu-gebu secara otomatis memutuskan hubungan Simbiolis Mutualisme yang selama ini telah mereka jalin sejak setahun terakhir.  Jika bukan karena Mita yang dengan sembunyi-sembunyi memberitahukan padanya bahwa dokumen penting itu telah...

Topeng (bag.5)

-Dugaan- Dua foto wanita cantik terpajang di dinding ruangan. masing-masing dilengkapi dengan data yang dibutuhkan para penyidik untuk memecahkan kasus pembunuhan yang sedang ditangani. "Diperkirakan pembunuhnya adalah seorang pria muda" Inspektur Bobby membuka suara. "Walaupun tak ada tanda-tanda kekerasan seksual." Sambungnya lagi. "Dilihat dari tempat kejadian, tidak ada tanda-tanda perlawanan dari korban dan sepertinya ini sudah direncanakan." Rudi ikut berkomentar. Inspektur Bobby mengamati lekat-lekat data para korban yang ada ditangannya. Merusak wajah korban setelah kematian, menunjukkan adanya masalah mental yang serius pada pelaku. Begitulah kondisi kedua korban saat ditemukan. Wajahnya disayat seperti hendak membalaskan dendam. Entah apa sebenarnya motif dari pembunuhan ini. Yang jelas kedua korban adalah teman dekat dan juga bekerja di tempat yang sama. "Aku pikir pelaku pembunuhan dari kedua korban ini adalah ...

Topeng (bag.10)

- Somnambulisme 2 - Maximilian Pirner-La Somnambule. Huile sur toile. 1878 Baca kisah sebelumnya disini Udara malam itu terasa panas, kipas angin tak banyak membantu meredakan gerah yang dirasakan penghuni kost kamar nomor I. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh penghuni kost lainnya, namun mereka cukup bersabar menerima kenyataan yang ada atau bahkan bisa mengatasi rasa gerah malam itu dengan cara masing-masing. Sasa penghuni kamar nomor I membuka jendalanya lebar-lebar, berharap angin diluar sana bisa masuk dengan leluasa. Namun sepertinya itu tak banyak membantu. Dengan tingkah sedikit konyol, Sasa meletakkan kepalanya di luar jendela sedangkan tubuhnya masih berada didalam kamar. Posisi tempat tidurnya yang menempel dengan bingkai jendela memang memungkinkan Ia melakukan itu. Syukurlah tak ada penghuni  kost  kamar lain yang keluar dan melihatnya. Kalau saja ada, kemungkinan mereka akan mengira bahwa Sasa adalah pencuri yang berusaha keluar dari je...