Langsung ke konten utama

Postingan

Ruang Kosong

Aku melihat warna putih Tanpa pelangi Kupikir, aku sedang mimpi Bukan! Warna putih kemudian melayang-layang Berganti abu-abu, kelabu Kupikir, hujan akan datang Bukan! Kelabu kini berubah pekat Lantas, perlahan hitam sempurna Kupikir hari sudah malam Bukan! Bukan malam Bukan hujan Bukan pula mimpi Ternyata, aku sudah mati. Ruang tamu, 2 september 2017

Review Puisi Paling Pilu

Konflik batin. Ini yang saya rasakan saat membaca cerpen Mba Hikmah . Seorang perempuan yang jatuh cinta namun terlalu takut pada ketentuan yang ada, dalam hal ini adalah sebuah aturan, berupa batasan dalam hubungan antara laki-laki dan perempuan. Disadari secara langsung dan tepat olehnya yang tentu saja paham akan aturan tersebut. Cerita ini dibuka dengan beberapa chat dari seorang teman laki-laki yang sangat perhatian. Saya katakan demikian karena seperti itulah isinya. Mengingatkan tentang waktu makan dan sakit yang akan diterima teman perempuannya jika tidak menepati waktu makan tersebut. Di lain waktu sentilan atas kesibukan teman perempuannya disampaikan agar jangan sampai lalai sholat, dan sejenis perhatian lain yang menurut saya, siapapun akan merasa sangat diperhatikan. Tentu saja semua bentuk perhatian itu akan menyeret sedikit demi sedikit rasa suka dari teman perempuannya untuk kemudian merasakan cinta. Menurut saya, Mba Hikmah mampu membuat pembaca merasakan ...

Menu Pagi, Sarapan Semut

"Kak..., ini apa? Gimana cara memakannya?"  Kalian tahu cara memakan telur yang sudah dibelah menjadi dua bagian sama besar, dan dengan nyata (sedikit hiperbola kukatakan) diatas lingkaran kuning telur yang menghadap ke atas itu, segerombolan semut sedang sidang paripurna. Nah, bagaimana cara memakannya?  Meraka sangat banyak, bertumpuk, menggelikan sekaligus menakutkan. Mungkin mereka sedang membahas bagaimana caranya menaklukkan manusia dan mengambil alih kekuasaan di dunia ini.  Kuserahkan semangkok bubur dengan taburan semut di atas telur tadi pada seorang pelayan warung 'Shabhu' yang kebetulan lewat.  "Oh... Sebentar ya, mba!" pelayan yang menerima mangkok buburku berlalu dengan wajah yang tidak enak dilihat.  Aku kembali duduk ke tempat yang dari awal kupilih berdekatan dengan TV yang ditempel ke dinding. Layar monitor itu menampilkan kisah perburuan sekelompok orang terhadap dua orang yang anehnya tetap unggul meski dikeroyok ...

Tokoh Saya yang Keracunan

Saya memandangi layar laptopnya lekat-lekat. Warna layar putihnya diatur dengan seksama agar tidak membuat mata perih dan mudah lelah, walau sebenarnya Saya sudah sangat lelah. Kursor kurus itu terlihat seperti sedang menari-nari.  "Genit sekali!" umpat Saya sambil menyentil kursor. Layarnya lantas berkedut-kedut, mungkin merasakan sakit, "rasakan itu!" hardik Saya sambil menunjuk-nunjuk laptopnya.  Sudah satu jam Saya duduk takzim menghadap laptop. Keringat membanjiri wajahnya, membuat wajah manis Saya seketika berubah kusut, berkerut kerut dan syukurnya dia tidak sempat semaput walau berkali-kali sakit perut.  "Ahh... Baiklah, mungkin aku terlalu tegang." katanya, coba menghibur diri.  Di sisi kiri Saya, ada keranjang kecil tempat menyimpan makanan duo hamster jenis panda. Warnanya hitam putih.  "Perkenalkan! Nama mereka Bo-Lu. Mirip nama kue, kan?" ucap Saya memperkenalkan kedua binatang peliharaannya kepada makhluk ...

Ada Hal Lainnya

"Pak Edi..., saya hampir lupa mengatakan kalau tadi di pemakaman, saya menemukan bola milik Eve. Saya yakin itu milik putrimu karena ada nama kalian di bola itu." "Ya Tuhan, benarkah?" Aku yakin bola itu sudah hilang sejak kemarin. Bola itu menggelinding entah kemana. "Baiklah, terimakasih sudah memberitahukan keberadaan bola itu, Pak." akan kuambil bola itu, setidaknya itu akan menjadi barang kenangan terakhir kami.  Usai berbincang-bincang dengan Pak Juna dan menghabiskan secangkir teh aroma Melati, aku berpamitan dan kembali menuju pemakaman. Melewati bagian depan gerbang dimana tadi aku bertemu dengan laki-laki tua yang misterius.  Benar-benar aneh, aku yakin tadi sedang berbicara dengan laki-laki tua di depan gerbang pemakaman. Aku segera memasuki pemakaman. Dimana-mana, suasana pemakan selalu sama. Sendu.  Kutemukan bola Eve di dekat nisannya. Kenapa bola ini bisa ada di sini? Sungguh aku sedang malas berpikir, tidak masuk akal ...

Jangan Beri Tahu

"Legenda Tanah Subur? Maaf sebelumnya, anda tahu cerita ini dari siapa?" Pak Juna balik bertanya. Kujelaskan bahwa sekitar limabelas menit yang lalu, ada seorang laki-laki tua yang berbincang-bincang denganku mengenai cerita itu.  "Ah... Lebih baik anda tidak mengetahuinya, Pak Edi. Apalagi sekarang anda sedang berkabung." Pak Juna menolak untuk membicarakan. Aku sedikit kecewa. Sekian menit berikutnya kami berbincang-bincang tentang keadaan daerah ini sebelum aku pindah.  Usai menghabiskan secangkir teh, aku pamit dan berjalan keluar. Pak Juna mengantarku sampai ke depan pintu rumahnya. Ia menyarankan padaku agar lebih banyak berdoa dan menyibukkan diri, supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Aku mengucapkan banyak terimakasih. Walau bagaimanapun, kata-kata orang tua ini ada benarnya. Aku mengucapkan salam dan berlalu pulang.  Ada perasaan yang nyaman setelah bertemu dengan Pak Juna. Aku merasa lebih tenang. Perbincangan kami yang tidak terlal...

Aku Penasaran

Langit perlahan gelap. Sesekali kilat tampak diantara tumpukan awan mendung yang semak. Tanganku bergetar memasukkan tubuh Eve ke dalam lubang. Berharap apa yang kupikirkan terwujud.  Kembali kuingat kata-kata laki-laki tua misterius siang tadi, tentang Legenda Tanah Subur. Apa mungkin itu dapat mengembalikan sesuatu yang hilang? Mungkinkah?  " Tanah subur itu sesuai dengan namanya, Pak Edi. Menakjubkan sekaligus menakutkan. Kita tidak akan pernah mampu berpikir bagaimana bisa alam menciptakan kehidupan baru dalam satu putaran hari."  Menakjubkan sekaligus menakutkan. Apa yang akan terjadi dalam satu putaran hari? Otakku berpikir keras. Jika sesuai dengan perkiraanku,  pasti Eve dapat kukembalikan.  Siang tadi, aku memutuskan untuk mencoba, berlari secepatnya, berlomba dengan waktu, terserah jika kalian menganggapku gila. Mungkin ini ide buruk, tapi bagiku ini kesempatan. Aku melewati jalan setapak yang dapat memotong jalan ke arah rumah. In...