Langsung ke konten utama

Postingan

Tokoh Saya yang Keracunan

Saya memandangi layar laptopnya lekat-lekat. Warna layar putihnya diatur dengan seksama agar tidak membuat mata perih dan mudah lelah, walau sebenarnya Saya sudah sangat lelah. Kursor kurus itu terlihat seperti sedang menari-nari.  "Genit sekali!" umpat Saya sambil menyentil kursor. Layarnya lantas berkedut-kedut, mungkin merasakan sakit, "rasakan itu!" hardik Saya sambil menunjuk-nunjuk laptopnya.  Sudah satu jam Saya duduk takzim menghadap laptop. Keringat membanjiri wajahnya, membuat wajah manis Saya seketika berubah kusut, berkerut kerut dan syukurnya dia tidak sempat semaput walau berkali-kali sakit perut.  "Ahh... Baiklah, mungkin aku terlalu tegang." katanya, coba menghibur diri.  Di sisi kiri Saya, ada keranjang kecil tempat menyimpan makanan duo hamster jenis panda. Warnanya hitam putih.  "Perkenalkan! Nama mereka Bo-Lu. Mirip nama kue, kan?" ucap Saya memperkenalkan kedua binatang peliharaannya kepada makhluk ...

Ada Hal Lainnya

"Pak Edi..., saya hampir lupa mengatakan kalau tadi di pemakaman, saya menemukan bola milik Eve. Saya yakin itu milik putrimu karena ada nama kalian di bola itu." "Ya Tuhan, benarkah?" Aku yakin bola itu sudah hilang sejak kemarin. Bola itu menggelinding entah kemana. "Baiklah, terimakasih sudah memberitahukan keberadaan bola itu, Pak." akan kuambil bola itu, setidaknya itu akan menjadi barang kenangan terakhir kami.  Usai berbincang-bincang dengan Pak Juna dan menghabiskan secangkir teh aroma Melati, aku berpamitan dan kembali menuju pemakaman. Melewati bagian depan gerbang dimana tadi aku bertemu dengan laki-laki tua yang misterius.  Benar-benar aneh, aku yakin tadi sedang berbicara dengan laki-laki tua di depan gerbang pemakaman. Aku segera memasuki pemakaman. Dimana-mana, suasana pemakan selalu sama. Sendu.  Kutemukan bola Eve di dekat nisannya. Kenapa bola ini bisa ada di sini? Sungguh aku sedang malas berpikir, tidak masuk akal ...

Jangan Beri Tahu

"Legenda Tanah Subur? Maaf sebelumnya, anda tahu cerita ini dari siapa?" Pak Juna balik bertanya. Kujelaskan bahwa sekitar limabelas menit yang lalu, ada seorang laki-laki tua yang berbincang-bincang denganku mengenai cerita itu.  "Ah... Lebih baik anda tidak mengetahuinya, Pak Edi. Apalagi sekarang anda sedang berkabung." Pak Juna menolak untuk membicarakan. Aku sedikit kecewa. Sekian menit berikutnya kami berbincang-bincang tentang keadaan daerah ini sebelum aku pindah.  Usai menghabiskan secangkir teh, aku pamit dan berjalan keluar. Pak Juna mengantarku sampai ke depan pintu rumahnya. Ia menyarankan padaku agar lebih banyak berdoa dan menyibukkan diri, supaya tidak terlalu larut dalam kesedihan. Aku mengucapkan banyak terimakasih. Walau bagaimanapun, kata-kata orang tua ini ada benarnya. Aku mengucapkan salam dan berlalu pulang.  Ada perasaan yang nyaman setelah bertemu dengan Pak Juna. Aku merasa lebih tenang. Perbincangan kami yang tidak terlal...

Aku Penasaran

Langit perlahan gelap. Sesekali kilat tampak diantara tumpukan awan mendung yang semak. Tanganku bergetar memasukkan tubuh Eve ke dalam lubang. Berharap apa yang kupikirkan terwujud.  Kembali kuingat kata-kata laki-laki tua misterius siang tadi, tentang Legenda Tanah Subur. Apa mungkin itu dapat mengembalikan sesuatu yang hilang? Mungkinkah?  " Tanah subur itu sesuai dengan namanya, Pak Edi. Menakjubkan sekaligus menakutkan. Kita tidak akan pernah mampu berpikir bagaimana bisa alam menciptakan kehidupan baru dalam satu putaran hari."  Menakjubkan sekaligus menakutkan. Apa yang akan terjadi dalam satu putaran hari? Otakku berpikir keras. Jika sesuai dengan perkiraanku,  pasti Eve dapat kukembalikan.  Siang tadi, aku memutuskan untuk mencoba, berlari secepatnya, berlomba dengan waktu, terserah jika kalian menganggapku gila. Mungkin ini ide buruk, tapi bagiku ini kesempatan. Aku melewati jalan setapak yang dapat memotong jalan ke arah rumah. In...

Pulang ke Rumah

"Apa mungkin ada hantu di siang terik seperti ini?" kepalaku mendadak pusing. Panas matahari menyempurnakan lelahku pada puncaknya. Perut yang tidak terisi sejak kemarin sore dan mungkin saja tadi aku berhalusinasi tentang seorang tua yang misterius. Kuputuskan untuk pulang ke rumah dan beristirahat. Cukup sudah kukumpulkan lelah seharian ini. Saatnya pulang. Ya Tuhan. Aku baru ingat kalau tidak membawa kendaraan saat keluar dari rumah. Tenggelam dalam lautan sedih membuat pikiran memutuskan segala sesuatunya dengan keliru. "Pak Edi, saya mohon maaf karena terlambat mengetahui kabar duka yang menimpa putri anda." seorang tua yang berjalan keluar dari arah pemakaman menyapaku. "Perkenalkan, saya Juna. Anda sepertinya sedang kebingungan, apa ada yang bisa saya bantu?" orang tua ini begitu ramah. "Senang mengenal anda, Pak Juna." aku menjabat tangannya. "Tempat tinggalku tidak jauh dari sini, jika anda berkenan, singgahlah ...

Abaikan Teleponnya

Aku tidak menghiraukan dering telpon di ruang tengah. Jika itu Resti, aku pun belum siap menyampaikan kabar duka itu pada istriku. Untuk sementara waktu, biarlah Resti menikmati hadiahnya. Setidaknya itu dapat memberiku waktu. Lima belas jam telah berlalu, sejak kejadian yang menimpa Eve. Aku melangkah ke luar rumah untuk mencari udara segar. Meski sebenarnya mata mengantuk dan tubuhku sangat lelah, aku tidak ingin berada di dalam rumah saat ini.  "Selamat siang, Pak Edi!" sapa suara dari arah samping kiriku. Aku menoleh, mengerutkan dahi menatap laki-laki tua dengan tongkat kayu di tangan kanannya. Jujur, aku tidak mengenalnya.  "Selamat siang, maaf... Apakah anda salah satu warga di daerah sini?" ingatanku payah, aku memang jarang sekali bergaul dengan para tetangga. Walau demikian, mereka mengenalku dengan baik. Mungkin itu berkat pekerjaan yang kugeluti.  "Anggaplah seperti itu." jawab laki-laki tua itu dengan senyum misterius. A...

Angkat Telponnya

"Halo...?" suaraku terdengar serak. Hampir lima belas jam aku tidak menyentuh makanan dan minuman sejak kecelakaan yang merenggut nyawa Eve.  " Halo Pak Edi. Maaf kami baru mendengar berita duka itu. Kami turut berduka cita ." suara dari seberang sana ternyata bukan Rasti. Syukurlah, aku pasti kebingungan menjawab pertanyaannya tentang Eve untuk sementara ini.  "Terimakasih, maaf ini dengan siapa?" di sela-sela kesedihan tentu saja aku harus bersikap ramah.  " Saya Pak Juna, tinggal tidak jauh dari pemakaman. Apa anda punya waktu siang ini ?" jelasnya yang ternyata selama ini luput dari perhatianku. Aku baru mengetahui jika ada satu keluarga yang tinggal tidak jauh dari pemakaman. "Oh.. Pak Juna, maaf... saya tidak mengenali suara anda. Siang ini? Mohon maaf, saya ..." kata-kataku terputus. Tentu saja aku malas untuk keluar rumah dengan suasana seperti ini. Tadinya ingin kutolak tawarannya untuk bertemu. Namun suara...