Langsung ke konten utama

Postingan

Rahasia Di Ruang Imaji

    pixabay      Nada-nada mengalun indah dari petikan jari seorang Yiruma. River Flows in You, Kiss The Rain dan judul lainnya dahsyat mencipta efek berbagai rasa yang aku sendiri tidak mampu menjelaskannya. Kupejamkan mata, mencoba menyusuri semua jejak di belakangku. Sebuah pertanyaan, apa yang sudah kulakukan? Dari mana asalnya perasaan ini?      Aku mundur ke belakang. Memasuki ruang imaji dan mengambil posisi duduk teratas, di tempat yang tentu saja gelap karena aku suka berada disana. Saatnya melihat kembali masa yang sudah lewat, rekaman filmku. Mencari jejak yang mencipta rasa tidak karuan ini.      "Nihil. Tidak kutemukan jawabannya walau sudah berulang kali kuputar semua file memoriku."      "Benarkah?"      "Entahlah, ini cukup rumit."      "Sebenarnya kau sendiri yang memperumitnya."      "Benarkah begitu? Jelaskan padaku!"     ...

Kemungkinan Yang Ada

Kemungkinan itu pasti ada Dan pasti ada kemungkinan Aku ingin menyusuri langkahmu Lantas mengikutimu Jadi, Katakan ... Jika aku harus berhenti Lubang dalam hati ini terlanjur terbuka Menyerap dan menyimpan Semua kisahmu didalamnya Bahkan bayangmu bagai hantu di siang terang Aku benar-benar jatuh Terjamah dalam tatap mata sendu Jadi ... Kemungkinan itu pasti ada Ku tunggu dalam senyap dan sepinya gelap Akan aku telusuri jejakmu Lantas mengikuti kata hatiku Diam Karena rasa tak selalu harus disiarkan Pontianak, menikmati mendung

Ayah .. Aku Ingin Bercerita

     "Kau tahu? Ibu Guru selalu bilang padaku bahwa jika aku giat belajar, maka aku bisa membaca dan tentu saja nanti aku juga bisa menulis." celoteh Xena di sore hari dengan gerimis di luar sana, "tapi aku bingung, setelah aku mampu melakukan itu, bagaimana caranya aku bisa memberitahu ayah?"      " Itu mudah, teman! jika kau sudah mampu membaca dan menulis, maka tulislah ceritamu itu di kertas!"      "Begitukah? ya ... ya ... tentu saja, itu cara yang bagus. Aku akan menulis ceritaku untuk ayah." Xena berjalan perlahan menuju meja belajarnya. Meja yang saat ia berusia empat tahun, dijadikan ayah sebagai hadiah untuk mengenang hari kelahirannya. Terlalu awal sebenarnya, dan ayah punya alasan untuk itu.      " Kau mau apa dengan kertas-kertas itu?"      "Aku hanya ingin mempersiapkannya. Tidak lama lagi aku pasti bisa membaca." ucapnya yakin dengan semangat membara. --o0o--      Ibu ...

Candramawa Dalam Kenangan

Kelam menabur pekat beriak Terangnya tak cukup, teramat singkat Kenangan melekat kuat sepanjang hayat Beberapa rasa rusuh menghadapkan wajah masa lalu Aku tenggelam dalam candramawa Malunya tak terkira Hingga candala menyerang tubuh, meriang Berharap bumi segera menelanku hilang Tak cukup kuat hingga kugelar sujud isyarat tobat Hukum alam terus berjalan, aku jadikan saja pelajaran Layaknya kapal yang akan selalu merapat di pelabuhan Bayangan kembali seperti purnama dalam putaran Mengingatkan! (Setiap kita punya hitam diatas putih) Pontianak, dalam udara dingin.

Reuni Cinta (2)

     Kedua kakak beradik itu menghabiskan hari dengan cerita, canda dan tawa. Sama seperti tahun sebelumnya.      "Eh, kak Rei .., Rui sudah pandai mencuci, loh!" pamernya, "bantu Rui menjemur ya nanti!" pintanya pada kakak, karena tinggi tubuhnya yang masih rendah tak mampu mencapai tali jemuran.      "Oya ? Baiklah!" kakak menyetujui.      Matahari kini pada posisi tegak, panasnya tentu saja menyengat. Udara hangat dengan hembusan angin sepoi-sepoi yang melewati celah ventilasi rumah tingkat dua itu membuat Rui menguap berkali-kali. Kakak laki-lakinya sangat paham akan kebutuhan tidur siang si adik yang kini berumur delapan tahun. Apalagi setelah mencuci sekeranjang pakaian kotor yang telah didiamkan selama dua hari. Lelah sudah pasti menyelimuti adik kecilnya.      Pukul 16.00 WIB. Rui terbangun dengan perasaan kesal, seharusnya ia tidak tidur siang tadi. Dua jam akhirnya terbuang percuma, waktu ya...

Reuni Cinta (1)

Pukul 10.00 WIB. Matahari masih terasa hangat, namun kantuk berat yang Rui rasakan telah membawanya ke alam mimpi sejak lima belas menit yang lalu. “ Keripik pedas  hmm  enaknyaa.. " igau Rui dari alam bawah sadarnya. Makanan itu memang sudah lama tak lagi boleh ia nikmati, sejak kejadian sakit perut yang menyebabkannya harus diopname. Dua tahun yang lalu, menjadi pengalaman penting yang akan diingat Rui selama perutnya masih bermasalah. krriingg  .. suara telpon membangunkan Rui dari mimpi indahnya. "Halo .." sapanya dengan suara yang serak, khas baru bangun dari tidur. “ Rui, hari ini ibu ada rapat, pulangnya agak sore ." jelas ibu dari seberang sana. "Iya, nggak apa-apa." jawab Rui “ Jangan lupa makan ya dan jangan keluar rumah!" sambung ibu lagi, lengkap dengan perintah yang harus dan wajib dipatuhi. "Iya, Rui mengerti." sahut gadis kecil itu sambil menganggukkan kepalanya. Percakapan itu selesai. Rui menghembusk...

Aku dan Sang Hafidzoh

Awal tahun 2012      "Kak, ada Hafizhoh, usianya masih muda banget." Jemi menyambutku dengan kabar yang sangat membuatnya bahagia. Aku baru saja tiba di pelataran mesjid setelah sebelumnya bersusah payah melewati panasnya cuaca kota Pontianak.       "Hafizoh ..? orang Pontianak atau dari luar?" tanyaku menyambut antusias gadis cantik di depanku.      "Asalnya sih dari Sintang, tapi baru pulang dari Jawa Barat. Sekarang menetap di Pontianak karena ada saudaranya yang tinggal disini." jelas Jemi panjang lebar. Aku hanya mampu menganggukkan kepala, tak sabar ingin menemuinya yang sedang berada di dalam mesjid. Ini berarti kelompok kami bisa menyetorkan hafalan dengannya.      Kesan pertama sebelum kulihat wajahnya, entah apa namanya, terasa sejuk. Ah ... bisa jadi karena AC mesjid penyebabnya, pikirku. Ia duduk membelakangi pintu masuk, menghadap kiblat dan sedang muroja'ah (membaca hafalan AlQur'an tanpa me...