Langsung ke konten utama

Postingan

Topeng (bag.16)

-Yang Tersembunyi- Simak kisah sebelumnya disini Obat bius hirup   Chloroform   yang pada dunia medis dikenal pula dengan nama   Triklorometana   (CHCl3) ini benar-benar membuat Hera lumpuh total, tak sadarkan diri. Berbeda dengan kondisi jasad yang terbaring tenang diatas ranjang empuk, ada bagian diri Hera lainnya yang bagaikan terbang melayang diluar tubuh dengan kemarahan luar biasa. Melihat nanar bahaya didepan mata siap melahap tubuhnya dengan cara kotor. “ Tidak..tidak, bangun bodoh!! Dasar perempuan lemah, apa yang bisa kau lakukan selain diam dan bersembunyi setiap kali bahaya, rasa sakit dan duka datang menyerangmu!”   Teriaknya pada tubuh yang tak berdaya. Tak habis kata-kata sumpah serapah ditujukan pada Hera. “ Aku membencimu Hera..sangat membencimu .” Teriaknya lebih keras lagi untuk terakhir kalinya sebelum sisi lain itu terserap masuk ke tubuh Hera. Gejala kesadaran Hera perlahan pulih saat pria itu menggerayangi tubuh...

Topeng (bag.15)

Baca kisah sebelumnya disini -Kekacauan- Hera keluar dari gedung kantor polisi, wajahnya terlihat sangat lelah. Ia tau bahwa keterangan yang di berikan pada kedua penyidik kasus pembunuhan Susi dan Mita pasti tidak begitu saja bisa diterima penjelasannya, terutama cerita mimpi-mimpi itu. Setidaknya Ia bisa membantu memberikan keterangan walau sketsa wajah laki-laki dalam mimpinya belum selesai. Para penyidik terutama Inspektur Bobby sangat memahami kondisi Hera. Apalagi selama dua hari Ia berada dikantor polisi. Keterangan perbincangan di ruangan sebelah gudang dua hari sebelum pembunuhan yang didengarnya, juga Ia sampaikan pada penyidik. Pertemuan Susi dengan seorang laki-laki yang bersamanya saat itu. Sayangnya Hera tidak dapat memastikan siapa laki-laki tersebut. Mendengar penjelasannya pada bagian ini, membuat wajah para penyidik terlihat berbeda, entah apa artinya, yang jelas itu pasti sangat membantu. Dari kejauhan dua pasang mata mengamati Hera. Menung...

Topeng (bag.14)

-Kesaksian-             Kisah sebelumnya Hera menghilang selama tiga hari ( disini ).             Dikantor Polisi Area imajinasi dan area ingatan dalam otak manusia itu berbeda, ingatan terbentuk diotak besar sedangkan kreativitas dan imajinasi diatur diotak depan. Namun, respon yang tidak disadari juga bisa muncul. Sederhananya, jika orang yang tidak terlatih, dia akan melakukan kebiasaan kecil saat berbohong seperti bola mata berputar ke kiri atau memainkan sesuatu ditangan dan reaksi lainnya. “Reaksi ini tidak kita dapatkan dari gadis itu!” Ungkap Bobby pada rekannya. “Lalu bagaimana pendapatmu tentang mimpi pembunuhan yang dialami gadis itu, apa kau percaya?” Tanya Rudi sedikit protes. “Aku juga tidak yakin, mungkin itu hanya sekedar halusinasi.” Seru Bobby kemudian. “Ini memang bukan spesialisasiku, penurunan aliran darah diotak menye...

Topeng (bag.13)

-Perubahan- Baca kisah sebelumnya disini Kamar putih berukuran 3x3 meter tampak terang bukan karena cahaya lampunya yang menerangi, namun sinar matahari bebas masuk menembus kaca jendela lengkap dengan teralis kokoh yang melapisi. Lorong diluar ruanganpun lenggang, sepi tak ada suara langkah kaki. Hera masih menutup mata rapat-rapat, tangannya bersedekap menyilang didepan dada, ujung lengan bajunya yang panjang memeluk tubuh dan terikat kuat dibelakangnya. Wajah pucat itu kini menempel di dinding sudut ruangan mencari hawa dingin sisa-sisa embun pagi yang terserap sejak matahari memulai hari. “Apa saya belum bisa menemuinya?” Tanya seorang laki-laki pada perawat yang sedang berdiri tak jauh dari ruangan tempat Hera dirawat. “Maaf Pak, saat ini pasien belum bisa dikunjungi” Tolak perawat tersebut dengan suara ramah. “Baiklah, mohon hubungi saya jika kondisi pasien sudah membaik!” Pinta lelaki itu dengan harap. Laki-laki itu melangkah keluar gedung, hatin...

Topeng (bag.12)

-Surat Misterius 2-     Baca kisah sebelumnya disini Dimas yakin ini pasti surat dari pengirim yang sama.  ‘ BERHATI-HATILAH DAN PERHATIKAN LANGKAHMU !’   Kalimat yang tertera di kertas membuat Dimas tak karuan, jelas sekali hatinya penasaran, posisi duduknya pun berkali-kali dibetulkan. Ada nada peringatan ditujukan padanya dalam kalimat yang ditulis dengan rapi oleh si penulis surat misterius. “ Siapa orang ini?” Batin Dimas. -------- Hal serupa juga dialami laki-laki pembunuh saat memasuki ruang kerjanya. Dengan tangan sedikit bergetar Ia meraih amplop kelabu di atas meja, menimang-nimangnya sebentar untuk memberi kesempatan bagi otaknya menguasai suasana hati dan pikiran yang berantakan. Jelas ada ketakutan yang memeluknya sesaat waktu itu. Perlahan laki-laki itu membuka surat kelabu, lantas terpaku setelah membaca deretan kalimat yang tertera. ‘ PERHATIKAN LANGKAHMU SELANJUTNYA, JADI HATI-HATILAH !! RAPORT MERAHMU SUDAH A...

Topeng (bag.11)

-Resah- Baca kisah sebelumnya disini Dimas ingin memberitahukan perihal surat misterius yang Ia terima kemarin pada Inspektur Bobby, Ia yakin kalau surat itu pasti ada kaitannya dengan pembunuhan. Bisa jadi si pengirim adalah saksi yang selama ini bersembunyi dan tidak ingin berhubungan dengan polisi karena posisinya terancam. Diantara kebingungannya antara melaporkan atau tidak, akhirnya Dimas memutuskan untuk menemui Anton saat istirahat makan siang. Sebelumnya Ia akan mengirim pesan terlebih dulu pada teman baiknya itu karena beberapa hari ini Ia tak melihat Anton dikantor. “Posisi?” “Belakang meja.” “Ada waktu kosong nanti siang?” “Ada.” “Soto Ayam kemarin enak, kita ketemu disana!” Anton tidak langsung menjawab, keningnya berkerut mengingat kapan Ia pernah makan Soto Ayam bersama Dimas. Akhirnya Ia ingat pada karyawan yang ditugaskannya membeli makanan untuk Dimas beberapa hari yang lalu. “Siap Bos.” Jawab Anton. Percakapan lewat...

Topeng (bag.10)

- Somnambulisme 2 - Maximilian Pirner-La Somnambule. Huile sur toile. 1878 Baca kisah sebelumnya disini Udara malam itu terasa panas, kipas angin tak banyak membantu meredakan gerah yang dirasakan penghuni kost kamar nomor I. Mungkin hal yang sama juga dirasakan oleh penghuni kost lainnya, namun mereka cukup bersabar menerima kenyataan yang ada atau bahkan bisa mengatasi rasa gerah malam itu dengan cara masing-masing. Sasa penghuni kamar nomor I membuka jendalanya lebar-lebar, berharap angin diluar sana bisa masuk dengan leluasa. Namun sepertinya itu tak banyak membantu. Dengan tingkah sedikit konyol, Sasa meletakkan kepalanya di luar jendela sedangkan tubuhnya masih berada didalam kamar. Posisi tempat tidurnya yang menempel dengan bingkai jendela memang memungkinkan Ia melakukan itu. Syukurlah tak ada penghuni  kost  kamar lain yang keluar dan melihatnya. Kalau saja ada, kemungkinan mereka akan mengira bahwa Sasa adalah pencuri yang berusaha keluar dari je...